4. Mekanisme Fisiolgosi regulasi
Teori-teori Lokal
Keitka saya duduk didepan word procesor saya, melihat sandwich dan memikirkan bagiamana memulai diskusi tentang mekanisme fisiolgosi regulasi, smpailah pada saya topik lapar, haus, dan motivasi seksual. Terasa sangat kompleks. Banyak rset sudah dilakukan terhadap lapar dan haus yang mengambil pandangan bahwa homeostasis merupakan mekanisme utama yang mengontrol pencernaan makanan atu air. Yaitu, secar aumum diasumsikanbawha kita makan makanan untuk menjaga kesiembangan energi kita dan minum air untuk mnjaga keseimbangan cairan kita. Pendekatan-pendekatan awal menyatakan bahwa perubahan-perubahan pada kotnaksi perut atau mulut kering merupakansinyal-sinyal yang memulai makan dan minmum. Misalnay Cannon dan Washburn (1912) melaporkan bahwa kotnraksi perut berkaitan dengan rasa lapar pada manusia. Washburn menelan sebuah balon yang dikempeskan dan kmudian menempelkannya pada sebua pena pennanda yagmencatat kotnraksi perut Washburn pada sebuah bagian kertas yang begerak (gambar 4.1). washburn jgua dimint amengindisikan kaan dia merasa lapar secara subyektif. Rasa lapar ini cendeurn gnaik dengna kontraksi perut, sehngag menyebabkan Cannon dan Washburn berasumsi bahwa kotnraksi-kontraksi perut merupakand asra dari sinyal-sinayl lapar dan hasil dari makan.
Teori Cannon dan Washburn dikenal sebagia teori motivasi lokal karena berasumsi bahwa sinyal-sinyal yang mengontrol motif-motif seperti lapar dan haus dihasilkan dalam organ-oragn tubuh perieral (yang berbeda dengan otak). Teori motivasi lokal tidak memadai. Misanya, memperparah saraf yang membawa informasi di antar asistem saraf pusat dan perut tidak menghilankan pengalaman lapar. Saaf vagus merupakan sumber utama informasi ini; keitka memperbarahnya menyebabkan kotnraksi-kontraksi perut berhenti tapi tidak menyebabkan pengalaman lapar pada manusia berhenti (Gross man & Stein 1948). Morgan dan Morgan (1940) sebelumnya menunjukkan bawha memperbaparah agus tidak menghilangkan asupan makanan pada tikus yang diberi insulin, sehingga peneliti bisa melihat perubahan-perubahan pada periferal tubuh tidak perlu untuk menimbukan pengalaman lapar. Karena penejlasan-penejlasan peirferal sebelumnya tidak mampu mencakup kondisi-kondisi termotivasi seprti lapar dan haus, cukup alami bagi penliti untuk mulai melihat otak sebagai tempat kontrol yang mungkin.
Teori-teori Sentral
Teori-teori sentral motivasi menekankan ide bawha sel-sel kuhsus dalam otak mendeteksi perubahan-peurbahan pada kodnisi ubuh dan memicu motivasi yang sesuai. Model-model tersebut tidak menekankan peran peifferal dalam regulasi makan dan minum. Beberapa rea otak diimplikasikan dalma kontrol homeostatik dari perilkau termotivasi, tapi jumlah riset terbesar berfokus pad struktur kecil yang terkubur dalam otak, disebut hipotalamus. Speerit namanya, ini terletak dibawah talamus. Gambar 3.2 menunjukkan lokasi hipotalamus dalam kaitannya dengan struktur-struktur otak lain.
Meski hipotalamus merepresetnasikan sebagian kecil dari seluruh otak, sel-sle yang terdapat dalam area ini dan serat-srat yagnmelewatinya terlbat dalam banyak fungsi penting. Mislanya, hipotalamus menggontgrol aktivasi bagian simpatetik dan parasimpatetik sistem safar otonom dan juga kelenjar pituitary, dan akkiabtnya juga mengontrol seluruh sistem endocrine. Perubahan-perubahan pada perilkau seksual, makan dan minium, keagresifan dan ketaktuan semuanya dilaporkan disebabkan oleh kerusakan eksperimental atau stimulasi pada area ini. Hipotalamus juga memilki banyak pembuluh darah, yang membuatnya sangat cocok dengan perubahan-perubahan sampel pada koponen-komponen darah (glukosa darah, kadar air, level hormon, dan seterusnya).
Regulasi Homeostatik
Model homeostatik berasumsi ada kmekanisme regulatoris did alam tubuh yang mengambil sampel lingkungan inernal; ketika prubahan memindahakn tubuh dari nilai optimal, mekanisme ini memicu sirkuit yang menghasilkan motivasi untuk mengembalikan organisme ke kondisi seimbang. Gambar 4.3 menunjukkan versi sederhana bagaimana mekanisme tersebut bisa bekerja. Banyak riset yang diarahkan pad apemahaman regulasi kondisi-kondisi motivasional berkonsentrasi pada motif lapar dan juga pad aperan hipotalamus ada rasa lapar.
Regulasi rasa lapar
Motivasilapar secara umum dianggap bersifat homeostatik. Ketika terjadi ketidakseimbangan, misalnya kadargula dalam darah (glukosa darah), perubahan ini dideteksi oleh sel-sel khusus yang disebut glukoreseptor menghambat makan leih lanjut karena level energi sekarang sudah cukup. Suatu mekanisme homeostatik seperti yang baru saja dijelaskan dianagp mengontrol regulasi asupan energi jangka pendek, yaitu keitka kita makan (interval intermeal) dan seberapa banak iita makan (ukuran makanan). Umumnya, mekanisme homeostatik kedua, yang mengontrol regulasi adangan energi jangka panjang, juga diasumsikan. Mekanisme yang mengotnrol reglasi jngka panjang dilibatkan dengan memelihara cadangan energi yang cukup sehignga jika asupan energi jangka pndk terbukti tidak cukup, simpanan-simpanan tersebut bisa dipakai untk mmelihara fungsi nomal. Regulasi jangka panjang ini bisanya daingap melibatkan deteksi perubahan-peurbahan jumlah lemak yang tersimpan dalam jaringan adiposa dan aktivasi rasa lapar juga cadngan makanan berada jauh di bawah jumlah optimal. Skarang kita akan menguji kosnep regulasi motivasi lapar jangka penek dan jangka panjna.g
Regulasi jangka pendek
Regulasi jangka pendek melibatkan kontrol makan pada periode waktu tetentu, seperti dari satu hari ke hari berikutnya atau dari satu makan ke makan berikutnya. Karena regulasi jangka pndek diangagp berfungsi terutama menyeimbangkan asupan energi dengna pengeluaran energi, diasumsikan sistme ini memantau beberapa aspek ktersediaan energi dan memicu makan ketkika energi yang tersedia mulai turun. Pertanyaan menariknya adlaah: di mana sistem jangka pendek ini dan bagiamana cara kerjanya?
Petunjuk untuk lokasi yang mungkin dari sistem ini diberikan dalam sebuah studi oleh Hetheringtond an Ranson (1940) yang menemukan bawha lesi-lesi hipotalamus menyebabkan kegemukan pada binatang. Riste selanjutnya melokalisir efek kegemukan pada kerusakan di aaerah hipota,amus ventromedial (VMH). Ketika area hipotalamus ini dirusak, binatang yang terkena akan mulai makan dalam jumlah besar, sebah kondis iyagn dikenal sebagai hiperpagia. Gambar 4.4 menunjukkan sebuah tikus yang dibaut gemuk oleh kerusakan pad aarea ini. Binatang hiperagic bisa makan dalam jumlah banyak, kadang-kadang menyebabkan berat badannya naik dua kali lipat dari beat badan normal; namun demikian binatang ini tidak makan hinga munta. Kadang-kadang binatang gemuk ekstrim ini menyetbailkan berat badam merka pada peningkatan level ini dan memelihara diri mereka pada berat badan baru ini.
Petunjuk kedua yang berkaitan dengan operasi sitem ini diberikan oleh Anand dan Brobeck (1951), yang menemukan bahwa lesi-lesi dalam daerah kedua, disebut lateral hipotalamus (LH) menyebabkan binatang berhenti makan. Gambar 4.2 menunjukkan lokasi hipotalamus lateral. Binatang yang dirusak LH ini tidak makan atau minum (kondisi yang disbeut aphagia dan adipsia), dan bisa mati jika tidak diinterfenssi pengeksperimen. Jika binatang ini dijaga hidup oleh pengekserimen, biatang ini akan puluh dan memelihara dirinya sendiri meski berat badannya jauh di bawah normal.
Penemuan area-area di dalam hipotalamus yang memiliki efek spesifik dan berlawanan terhadap perilaku makan binatang mendorng pada kosnep psat-pusat yang bekerja bersama-sama mengatur rasa lapar (Stellar 1954). VMH diangagp sebagia pusat satiety yang menghentikan makan ketika asupan energi cukup. Jika center inidirusak maka binatang tidak bisa menghamatb makannya dan menjadi kegemukan. Sebaliknya LH dianagp sebagia pusat eksistatoris yang menyalakan respon makan ketika sumber-sumber energi baru diperlukan. Menurut hipotesis pusat, kerusakan pada LH akanmenyebabkan tidak adanya makan karena sel-sel yang umumnya memulai kprsoes makan dirusak. Konsep eksistatoris dan pusat inhibitoris di dalam hipotalamus yang menatur asupan makanan menghasilkan riset yang cukup besar. Inti daririset ini adlaah usaha utnk menentkan kondisi-kondisi apa yang berubah di dalam tubuh yang memberi sinyal LH untuk memulai makan dan kodisi-kondisi apa yang memberi sinyal VMH untuk menghambat makan. Perubahan-perubahan pada glukosa darah memberikan sebuah alon.
Teori Glukostatik Rasa Lapar. Pada 1955 Mayer mengusulkan bawha rspetor-rseptor dalam hipotalamus sensitif terhada perubahanperubahan ada rasio glukosa darah dalam ateri pada vena. Penurunang lukosa darah yang terdeteksi oleh glukoreseptor pada LH dianggap memicu makan, semetnara peningkatna glukosa dara yang dideteksi leh glukoreseptor pada VMH dianggap menghambat asupan makan lebih lanjut. Teori Mayer sebagian didasarkan pada laporan Brechr dan Waxler (1949) yang menunjukkan bawah injeksi zat kimiayagn disbeut thioglukosa emas membunuh selsel dalam VMH. Diasumsikan sel-sel ini dibunuh karena menyerap zat kimia karena mirip dengan glukosa/.
Teori glukosattik mendapatkan popularitasnya tapi kredibilitasnya dipertanyakan. Beberapa lini penelitian menyatakan bawha meski glukoreseptor bisa terdapat dalam VMH dan LH, keduanyabulan kemkanime utama yang bertanggngjawba utnukr eguasi jangka pendek normal. Misalnya, saat ini ditunjukkan bahwa ker thiglkosa emas merusak VMH karena menghancurkan makann kapiler pada VMH bukannya diserap oleh sel-sel karena mirip glukosa. Zat-zat kimia lain yang merusak kapiler juga merusak VMH meski tidak mengandung glukosa sebagai bagian dari susunannya. Kerja destruktuf gthipoglukosa emas pada kapiler bukannya pada sel-sel VMH menimbulkan keraguan terhadap adanya glukoreseptor dalam VMH. Ekragukan lebih lanjut dibuat olehs tudi Gold (1973) yang menunjukkan bahw lesi-lesi terbatas seluruhnya pada VMH dan tidak merusak bendel-bendel serat yang berdekatan yang tidak menyebbakankegemukan. Ketuka bendel-bendel yang berdekatan dirusak, efek kegemuklan VMH ditemukan. Hasil-hasil Gold mmpertanyakan peran VMH dalam mematikan perilkau yang memotiasi makanan dan menyatakan bawha serat-serat yang meliutnasi dekat VMH bisa bertanggungjawab atas terjadinay kegemukan, karena serat-srat trsebut serigkali dirusak ketika lesi-lesi VMH diciptakan.
Peran LH dalam aktivasi perilkau makann juga itdak semeyakinkan yang diindikasikan rsiet. Bukti untuk glukoreseptor pada LH muncul dan area ini nampak dilibatkan dengan makan akibat peurbahan-peurbhana pada glukosa, meski demikian, peran LH dalam makan normal nampak meragukan. Misalnya Blass dan Kraly mencatat bahwa berkurangnya sel-sel LH dari glukosa harus ekstrim sebeoum makan diinduksi pada tikus normal. Akibatnya mereka menytkan bawha LH bisa menjadi bagiand ari sistem emergensi yang dipicuhanya di bawha kondisi-kondisi ekstrim.
Bukti yang paling merusak bagi ide bawha LH nomralya memulai makan adalah sekelompoks tudi yang menunjukkan bahwa lesi-lesi LH menyebabkan defiist motivasional umum di mana makan hanya menjadi bagian kecilnya saja. Stricker dan rekan menujukkan bahwa binatang yang dirusak LH tidak bereaksi terhadap stimuli yang umumnya dikaitkan denganperilakut ermotivasi dan juga menunjukkan defisit yang besar pada level kegairahan normal. Binatang gn dirusak LH menjadi catat dan tidak berkaitan dengan motivasi lapar. tidak terjadinya makan pada binatang tersebut mungkin merefleksikan efisit yang lebih umum daripada krusakan pada sistem regulatoris jangka pendek yang sensitif terhadap glukosa.
Apa yang dibahas oleh siet ini berkaitan dengan teori bahwa hipotalamus mengandung respetor sensitif glukosa yang mengotnrol makan dan minum? Nampak jelas bahwa VMH dan LH terlibat pada motivasi lapar dalam beberpa cara. Ada bukti bahwa glukoreseptor ditemukan dalam otak; injeksi glukosa ke otak menekan proses makan dan kekurangan glukosa yang kuat akan memulai proses makan. Glukoreseptor dalam otak mungkin meurpakan bagiand ari sebuah sistem darurat yang hanya berperan ketika level glukosaturun drastis. Juga diketahui bahwa baik VMH dan LH terlibat dalam beragam perilaku selain makan; kerusakan menyebabkan perubahan-erubahan perilaku komplkes dimana makan (atau kurang makan) hanyalah satu bagian saja. Akibatnya, konsep sistem ganda dari puat inhibitoris dan eksistatoris di dalam hipotalamus yangmenatau level glukosa dan mematikan atau menyalakan motivasi lapar nampak tidak benar. Kesimpulan bahwa glukorespetor dalam otak tidak mengontrol perilaku makan normal mendorg beberapa peneliti melihat kembali periferal tubuh untuk sinyal-sinyal yang memulai dan menghambat makan
Detektor-detektor periferal untuk regulasi jangka pendek. Mekanisme periferal apa yang memicu perilaku makan dan mekanisme apa yang menghentikan makan? Meski sebuah mekanisme tunggal bisa memulai danmenghentikan proses makan, beberapa sistem mungkin dilibatkan. Jika kita mengangap tubuh seperti roket NASA, di mana beberap sistem backup menjadi aktif ketika kondisi berubah, kita tidak boleh terkejut saat menemukan bahwa pemciuan dan penghmbatan makan berasal dari lebihd ari stu tipe sinyal. Para peneliti menemukan bukti untuk lebih dari satu sistem sinyal.
Ketika kita makan, enzim dalam saliva mulai memecah makanan menjadi komponen-komponen yan lebih kcil. Proses ini dilanjutkan oleh perut yang kemudian mengosongkan isinya ke usus kecil atas, yang disebut duodenum. Poduk-produk pencernaan, sepergi gula sederhana dan asam amino disrap oleh duodenum dan masuk ke aliran darah yang selanjutnya langsung diangku ke liver; lemak mengambil jalan yang berbeda (Carlson 1977), Beberapa mekniasme dalam perut bisa bertindak sebagia sinyal-sinyal satiety untuk mematikan makan. Dua mekanisme ini merupakan reseptor regangan dalam dinding perut, yang berfungsi embaasi asupan, dan detektor nutrisi, yang menginformasikan oak akan adanya nutrisi tersbut. Sebuah loop fedback juga muncul di antara perut dan otak karena aktivitas perut dimodifikasi oleh isinay. Perut tidak nampak meregulasi dengan sendirinya, meski demikian, karena individu yang mperutnya masih kosong melaporkan lapar dan masih meregulasi.
Duodenum merupakan tempat yang mungkin bagi glukorespetor elusif karena injeksi glukosa lngsung ke duodenum menekan makan pada kelinci ygn makan bebas (Novin 1976). Duodenum juga mensekresi hormon yang disebut enterogastrone yang memilikie fek mengurangi aktivtias perut. Injeksi enterogasron juga menekan makanan selama 17 jam pada tikus, jadi suatu komponen enteroasron berfungsi sbagai sinyal kenyang. Komponen ini merpakan zat kimia yang disebut cholecystokinin (CCK).
Banyak studimemberi bukti bahw CCK, yang disekrsi oleh ussu atas sebagia respon terhadpa makanan memberi sinyal otak untuk menghentikan makan. Satu lini riset melibatkan perbandingan konsentrasi-konsentrasi CCK yang ditemuaknd alam otak tiksu gemuk dan non gemuk.studi ini,yang dilakukan oleh Straus dan Yalow (1979), menunjukkanbahwa tikus yang gemuk secara genetik mungkin hny puny sekitar 25% jumlah CCK dalam otak mereka sebagia tiksu normal dan menyatakan bawha makan berlebihan oleh tikus gemuk tersebut bisa berasal dari konsnetasi CCK yang lebih rendah. Saitio dan rekan (1982) menunjukkan hubungan antara tempat-tempat reseptor CCK dalam otak dan obesita, tapi tidak jelas bagiamana hasil-hasil ini berhubungan dengan hasil Sraus dan Yalow (1979). Meskid ata ini nampak menunjukkan CCK berfunsi sebagia sinaykl kekenyangan pada beberapa kondisi, pentingnya CCK sebagai sinyal kekenyangan hormonal utama masih diperdebatkan (Kraly 1981a, 1981b).
Liver juga nampak menjadi sumber potensial sinayl lapar dan kenyang. Injeksi gluikosa ke dalam vena portal hepatik (yang melalui liver) menekan maknan, sementara injeksi glukosa dalam vena jugular (yang menyuplai otak)tidak punya efek. Efek kenyang dari injeksi glukosa portal dihilangkan jika saraf vagus dipotong. Ini menunjukkan bahwa glukoreseptor bisa ada dalam liver yang menularkan inframsio mereka ke hipotalamus di sepnajng saraf vagus. Dalam mendukung hubungan liver-hipotalaik ini, Schimitt (1973) menunjukkan bawha infusi portal glukosa mengubuah tingkat penembakan neuron dalam hipotalamus. Jika nampak bahw aliver bisa menjadi saumber sinyal kenyang yang dikirim ke otak untuk menekan poses makan.
Di sisi lain, bukti jug amenunjukkan liver bisa memulai proses makan. Misalnay Novin (1976) melaporkan bebeapa eksermend I maan 2-DENGAN disuntikkan ke vena portal hepatik. Karena 2-DENGAN menghamabt penggunaan glukosa, ini tidak boleh membodohi reseptor-reseptor liver untuk berfgungsi seperti jika glukosa darah rendah sehingga memulai makan. Inilah yang terjadi, dengan onset makan sangat cepat. Hasil-hasil Novin menyatakan bawha liver memantau ketersediaanglukosa dan mengirim informasiini ke hipotalamus, yang memulai atau menekan proses makan. Novin percaya bahwa detektor glukosa terdapat pada duodenum dan liver. Dia mengusulkan reseptor-respetor dalam duodenum bertindak sebagai penekan makanan jika l;apar mimnimal tapi memacu keras ketika bninatang kelaparan. Di bawah kondis ikelaparan, respetor-reseptor liver menetukan kapan makan akan ditkan. Novin juga menyarankan bahwa detektor tersebut juga mengirimkan inforamsi ke LH dan informasi ini spesifik bagi glukosa.
Nampak mungkin bahwa regulasi makan jangka pendek dicapai oleh sistem senstifi-glukosa tapi reseptor ssitem ini berada dalam duodenum, liver atau keduanya.
Regulasi jangka panjang
Studi-studi alam regulasi perilaku makan jangka panjang mengujimeknaimse yang mengontrol rpsoes makan dan untuk menjaga stabilitas berat badan. Meski banyak yang mengeluhkan kelebihan berat badan, berat badan tubuh kita masih teregualsi dengan baik; sehignga meski beart kita mungkin tidak ideal, kita memelihara berat tertentu secar akonsisten, hanya berbeda satu pond atau dua pond dalam periode waktu lama.
Mekanisme apa yang memungkinkan organisme mengatur berat badannya? Sebagian besar teori regulasi jangka panjang berasumsi suatu sistme respetor bekerja untuk menantau lemak tubuh dan kemduian mengatur asupan maknan agar lemak tubuh tetap konstan. Teori-teori ini dsiebtu teori lipostatik (lemak adalah lipid).
Teori Set-Point. Teori Liposatik lapar. Rchard Kesey dan kolega berpendapat bahwa setiap dari kita memilki level berat badan normal yang dipertahankan secar akonsisten. Mereka memandang LH berkaitan dengan regulasi berat badan tubuh atau set-point yan tepat. Jika LH dirusak, tidak adanya makan dan minum yang diamati pada kasus-kasus tersebut bukanlah sebuah defisit kemampuan untuk makan tapi sebuah perubahan pada set point tubuh pada level baru yang lebih rendah. Tidak adanya makan adalah cara oragnisme megnurangi berat badan ke set point baru.
Keesey dan Powley mencaat hasil-hasil yang mendukng jenis interpretasi ini. Ketika binatang yang LHnya rusak menjadi pulih, mereka mulai makan lagi dengan cara normal, kecuali mereka memelihara berat badannya tetap rendah. Binatang yang pulih juga memelihara berat badan ini terhadap beragam tantangan diet. Misalnya, jika mereka diberi diet terkonsentasi, mereka makan sedkit untuk emelihara set poin baru sementar apengurunan diet mereka menyebabkan peningkatna makan untuk memelihara berat badan mereka.
Jika perubhan peirlkau makan yang dibuktikan oleh binatang-binatang ini merupakan cara mengurangi berat badan pad set poin baru, maka melaparkan binatang-binatang tersebutsebelum melukai LH akan menghilangkan tidak adanyamakan dan minium. Keeseymenemukan abhwa binatang yang dilukai LHnya yang sebelumnyalapa, mulai makan hampir secara langsung, yang mendukung ide bahwa LH terlibat dalam pengaturan beart badan.
Keeseydan Powley mencatat bahwa VMH bis ajuga mengontrol set poin tubu. Dimungkinkan lesi-lesi VMH menyebbakn nainknya set point berat badan tubuh pada level baru yang lebih tinggi. Mereka mencata bahwa binatang0biantang yang VMHnya rusak akan mempertahnakan berat badan mereka yang baru terhadap tantangan diet dengan cara yang sama seperti binatang yang LHnya rusak mempertahankan berat badan rendah mereka. Lebih lanjut, binatang0bintang ygn dirusak VMH cenderung makan sedikit.
Kemungkinan stimulus untuk regulasi di sekitar et point adalah lemah tubuh. Keseydan rekan mengusulakn LH dan VMH bekerja secara resiproks untuk menentukan set point bagi jaringan adiposa (lemak). Apa stimulus yang sensitif? Satu cara bagi set point bekerja adalah memantau suatu aspek sel-sel lemak. Suatu pemantauan sel-sel lemak terjadi; Faust, Johnson dan Hrsch (1977a) menemuakn bahwa jarignan adiposa yang dikeluarkan dari tikus usia 3 mingu digantikand engan sanga tepat. Hasil-hasil riset ini menunjukkan suatu tipe rgulasi perkembangan jumlah sel-sel lemak di dalam tubuh. Regenerasi sel-sel lemak hanya terjadi pada rendag p;erkembangan yang sangat terbatas, meskid emikian ketika para peneliti menemukan pad usia 15 minggu regenrasi tidak lagi terjadi. Para peneliti tersebut mencatat bawha diet tingi lemak mendorong pada regenrasi sel-sel lemak yang lebih besar daripada diet rendah lemak, menunjukkan kandungan diet bisa juga beperan dalam perkembangan sel-sel lemak pada oranisme muda. Studi oleh Fasut danrekan penting karena menunjukkan jumlah sel lemak diatur secara genetik tapi bsia juga dipengaruhioleh diet pada organisme muda.
Yang lebih penting, Faust, Johnson dan isch (1977b) menemukan dalam studi kedua bahwa pengeluaran jaringan adiposa dengan bedah (tanpa regenrasi) menyebabkanmeningkatnyaukruan sel-sel lemak individu. Jumlah dari sel-sel yang bisa membesar tersebut sangat terbatas, menunjukkan suatu jenis mekanisme regulatoris.
Bagaimana ukruan sel lemak bisa diregulasi? Wirtshafter danDavis (1977) mendapatkan data yang menunjukkan sebuah zat dalam darah bisa memberi otak inforamsi yang penting tentang simpanan lemak tubuh. Zat yang terlibat ini adlaah gliserol darah. Wirtshafter dan davis mencatat kadar gliserol darah berkaitan dengan ukuran sel-sel lemak. Karena ukruan sel-sel lemak akan mengindikasikan jumlah lemak yang disimpan, meningkatnya gliserol darah mengindikasikan peningkatan berat badan.
Wirtshafter dan Davis menduga jika gliserol darah mengindikasikan berat badan, injeski gliserol akan membodohi mekanisme regulatoris agar berfngsi seperti jika organisme lebih berat daripada berat aktualnya sehingga menyebabkan binatang berhenti makan dan pada akhirnya kehilangan berat badan. Untuk menguji ide ini, sekelompok tikus diberi injeksi gliserol harian; kelompk kedua diberi injeksi glukosa sebagai kondisi kontrol. Injeksi glukosa menyebakan penignkatan berat badan, sementara injeksi gliserol menyebabkan penurunan berat badan.
Jika set poin baru berat badan sudah ditentukan oleh injeksi gliserol, para peneliti menduga bahwa binatang yang diberi gliserol akan kembali ke set pontbaru ini jika mengalami kelaparan daripada kembali ke berat badan sebelumnya. Hipotesis ini diuji dan dikonfirmasikan dalam eksperimen kedua. Wirtshafter dan Davis menyimpulkan bahwa gliserol mengontrol berat badan secara langsung daipada diubah menjadi glukosa sebelum terdeteksi. Mereka mencapai kesimpulan ini karena kelompok kontrol glukosa mereka tidak mengalami penurunan berat badan dan karena gliserol yang disuntikkan langsung ke otak menyebabkansupresi prose smakan. Supresi ini menunjukkan suatu area dalam otak bisa sensitif terhadap level gliserol.
Jika level-level gliserol pnting bagi regulasi jangka panjang, mka injeksi gliserol harus menybabkan manusia gemuk berat badannya turun seprti tikus dalam ekspeirmen Wirtshater dan Davis (1977). Sayangnya, prosedur ini gagal menuunkan berat badan manusia. Mungkin suatu sinyal lain dipantau untk regulasi jangka panjang. Satu kemungkinannya adlah adipsin.
Cook dan rekan (1987) menemukan sebuah molekul yang bisa mennadai kodnisi simpanan-simpanan lemak. Para peneliti tersebut menemukan bahwa molekul adipsi dihasilkan oleh sel-sel lemak dan melimpah dalam darah. Prubaan lvel adipsin terbukti berbeda-beda menurut kondisi metabolik tikus; level adipsin meningkat pada tikus yan berpantang, dan menurun pada tkus yang disuntik dengan glukosa. Meski lebih banyak riset dibuthukan, kemungkinan level adipsin bisa memberi sinyal yang perlu yang berkaian dengan keseimbangan energi simpanan lmakk setidaknya dalam beberapa tipe kegemukan yang ditentukan secar agenetik.
Keeey dan Powley menyatakan bwha insulin bisa menjadi calon regulatoris lain karena dilibatkan dalam simpanan energi pada sel-sel lemak. Mereka menyarankan VMH mungkin mengonrol pelepasan insulin karena memotong saraf vagus (yang juga menstimualsi pankreas untuk melepaskan insulin) menghilangkan kegemuka pada tikus yang dirusak VMHnya. Dalam mendukung hiopotesis insulin, Oomura (1976) melaporkan baha sel-sel dalam LH dan VMH sensitif erhadap glukoa, insulin dan asam lemak bebas, yan gmenunjukkan sebuah sistem yang diusulkan oleh Keeey danPOwley bisa ada. Wood, Decke, dan Vaselli (1974) mengusulkan dua hormon, insulin dan somatotropin 9hormon pertumbuhan) terlibat dalam regulasi berat badan jangka panjang. Beberapa lini riset menyatakan bawh aperilkau makan, yang dipandang dari perspektif regulasi jangka panajng, melibatkan suatu sistem yang mampu mendteksi perubahan-perubahan simpanan lemak tubuh dan mengubah asumpan untuk menyesuaikan dengan simpanan-simpanan tersebut.
Rabu, 13 April 2011
bab 13 bu Yani
Bab 13
Emosi sebagai motivator
Tinjauan bab
Bab ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Bagaimana konsep emosi dijelaskan oleh para ahli teori psikologi?
2. apa peran faktor-faktor biologi dalam ekspresi emosi?
3. apa peran kognisi dalam emosi?
4. adakah emosi-emosi universal?
Sebagai atlit amaitr, saya telah menyaksikan beragam peristiwa olimpiade dengan aktusiasme yang besar dan mengalami beberapa dmapak emosional dari gagal dan sukses para partisipan. Saya meliht apra atlit menerima medali emas dnegna air mata berderai. Apakah mereka sedih? Emosional? Tentu saja.
Bab ini tentang emosi. Bagiamana kita bisa mnejelaskan emosionalitas atlit yang sukses dan reaksi-reaksi emosional kita sendiri? Apakah emosi berasal dari perubahan-peurbahan visceral intenral, seprti disarankan oleh james dan Lange (lihat bab 3), atau apakah bersal dari penghargaan kognitif atas peristiwa-peristiwa yang berlangsung? Apakah emosi bersifat bawaan dan jumlahnya terbatas, atau apakah emosi dipelajari dan berlipat-lipat jumlahnay? Ada sedikti pertanyaan riset tentang emosi yang harus dijawab. Seperti yang akan kita temukan, jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut sulit didapatkan dan opini-opini sangat berbeda.
Pada awalnya kata emosi berarti bergerak, seprti dalam beprindah dari satu tempat ke tempat lain; meski demikain istilah ini kemudian bearrrti sebuah gerakan atau agitasi dalam pengertian fisik. Penggunaan ini diperluas hingga meliputi agitasi politik dan sosial. Yang terakhir istilah ini berati sebuah kondisi teragitasi atau terbangkitkan pada seseorang (Young 1975). Sehingga ide emosi nampak mengimplikasikan seseorang itu digerakkan – yaitu diubah – dari satu kondisi ke kondisi lain, seperti berubah dari senang ke sedih atau dari non emosional ke emosional.
Para peneliti yang tertraik pada konsep ini telah memberikan banyak definisi emosi, tapis eperti dicatat oleh Mandler (1984), tidak ada definis iyagn diterima secara umum. Ketika kami menguji beberapa model emosi yang ada dalam bab ini,akan menjadi jelas bahwa emosi bisa dikonseptualisasikan dalam beberapa cara yang berbeda, dari perubahan-perubahan fisiologis hinga penilaian kognitif hingag ke ekspresi fasial fundamental. Setiap pendekatan menawarkan sesuatu, dan tidak adanya definisi yang diteima secara umumt entang emosi mungkin berasal dari fakta bawha emosi itu multifast.
Selama beberapa tahun tadisi berkembang dalam tudi emosi. Satu tradisi adalah bioplogis. Dimulai oleh Darwin (1872), pendekatna biologis dikemabngkan lebih lanjut oleh James, Lange dan Cannon dan lebih baru oleh para ahli ethologi (dan juga oleh banyak peneliti lain). Dalam bagian pertama bnab ini kami akanmenguji emosi dari perspektif biologis ini.
Tradisi kedua menekankan peran proses-proses pembelajaran dalam emosi. Kaltias-kualitas emosi seperti dorongan sudah dicatat oleh Bandura. Dalam bagian kedua bab ini kami akan meninjau secara singkat beberapa cara di mana pembelajaran dilibatkan dengan emosi.
Pada bagian ketiga bab kami akan menguji pendekatan-pendekatan kognitif terhadap emosi. Para ahlit eori dalam tradisi ini menekankan penilaian kognitif penting bagi pengalaman emosi. Beberapa model kognitif akan diuji.
Dalam bagian terakhir bab ini kami menguji ide bahwa sejulah emosi bersifat iuniversal. Teori-teori biasanya mengusulkan seumlah keicl emosi bawaawn berkmebang karena nilai adaptifnya bagi individu. Lebih lanjut, perubahan-perubahan muskulatur fasial sering disarankan sebagai cara mengkomunikasikan emosi ke orang lain dan kepada diri kita sendiri. Emosi-emosi fundamnetal bisa dicampur menghasilkan rentangpengalaman emosional tak terbatas.
Seperti dibuktikan dari pendahuluans ingakt ini, riset tentang meosi tidak memberi jawaban mudah, dan perselisihan dia ntara para ahli teori kadang-kadang begitui parah. Sebenarnya, satu penjelasan yang cenderung menggantikan penjelasan lain terjadi sekitar setiap 20 tahun (Averill 1983). Dalam bab ini kami akan menguji banyak pendekatan yang disebut kan oelh Averill yang berpengaruh terhadap konsep-konsep kita tentang emosi. Mari mulai dari awal pendekatan modern tentangtopik ini, yaitu pada teori darwin.
Emosi dari perspektif biologis
Darwin
Jika anda membaca buku Darwin The Expresion of the Emotions in Man and Animlas (1872), anda akant erkejut pada betapa modernnya ini terdengar. Misalnya, dia sadar bahwa gerakan-gerakan tubuh dan ekspresi badah (saat ini disebut bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal) mengkomunikasikan mana di antara para agnggota sebuah speiss. Dia berpendapat bawha banak jkomunikasi non verbal ini menyampaikan informasi tentang kondisi emosional organisme.
Darwin percaya bahwa empis dan kespresinya bersifat bawaan, meski d kemungkinan bebrpara tipe ekspresi emosioal bisa dpelajari. Banyak dari analisis emosi berkembang dis ektiar cara emosi diekspreiskan. Dia mengusulkan tiga prinsip untuk memahami ekspresi emosi pada manusia dan binatang.
pRinsip-prinsip serviceable yagn berkaitan dengan kebiasaan, antitesis, dan kerja langsung sistem saraf. Pada prinsip kebiasaan serviceabel, Dariwn mengusulkan cara organisme menyatakan emosi memiliki nilai survival di masa lalu. Sehingga sekor anjing bisa memkerkan giginya ketika membela tuannya karena dalam masa lalu evolusiiner gigi taring anjing,. Perilaku ini meningkatkan nilai survival anjing jika bertindak demikian. Memamerkan gigi bernilai adaptif karena beberapa alasan; misalnya, ini menandakan kesiapan motivasional untuk menyerang, yang pada akhirnya bisa menyebabkan binatang pengancam pergi, dan kedua, perilkau ini merupakan persiapan bagi anjing untuk menggigit jika diperlukan.
Darwin percaya bahwa ekspresi-ekspresi emosional pada awalnya dipelajari tapi menjadi bawaan selama beberapa generasi; sehingga kebiasaan yagn berkaitan dengan serviceable merupakan perilaku ygn dipeljari yagn menjadi bawaan karena kegunaannya. Karena dia tidak tahu karya genetik Mendel, Darwin tidak tahu bagaimana karakteristik tersebut diawriskand aris atu generasi ke genrasi berikutnya sehngga dia mengusulkan bawha ekspresi emosi berkembang dari kebiasaan yagn dipelajari terhadap ciri-ciri turunan selama beberapa genrasi. Saat ini kita tahu evolusi gagal dengan cara tersebut. Meski demikian, untuk memasukkan prinsip Darwin ke dalam pengetahuan genetik modern, kita perlu mencatat bahwa gen-gen tertentu mengontrol perkembangan perilaku emosi tertentu dan ekspresi emosi tersebut (anjing yang memamerkan giginya) memiliki nilai survival bagi organisme yang memiliki gen-gen tersebut.
Dalam prinsip antitesis Darwin mengusulkan bahwa ekspresi emosi yang bertentangan (kemarhaan dan ketenangan) melibatkan jenis-jenis perilaku yang berbeda.Kucing yagn marah akan mengerang, meratakan telinganya dengan kepala, memperpanjang cakarnya dan membuka mulutnya untuk menggingit. Kucing yang ramah dan tenang menggosek-gesekkan punggungya pada kaki anda dan telinganya berdiri, mulut tertutup dan cakarnya teratrik. Ekspresi perilaku dari dua kondisi emosional tersebut angat berbeda dan bertentangan. Sehingga prinsip antitesis menyatakan bahwa perilaku yang berkaitan dengan jenis-jenis perasan seingkali dinaytakan pada jenis-jenis perilaku yang berbeda.
Darwin sadar dia tidak bisa mengkategorisasikan semau perilaku emosioal menurut dua prisnip tersebut karena beberapa perilaku emosioal nampak tidak berguna bagi organisme. Dia mengusulan prinsip kerja sistem saraf langsung, yang menaytakan bawha beberapa ekspresi emosional terjadi hany a karena peruabahn apda aktivitas sistem saraf.
Dua prinsip pertama Dawrin nampak lebih relevan hari ini daripada prinsip ketiga. Umumnya diyakini bahwa emosi dan ekspresinya bersifat adaptif dan munculk saat ini karena berfungsi mengkomunikasikan kondisi-konidis intenral dari satu individu ke individu lainnya. Misalnya, seberapa sering anda melirik sseorang, tanpa ata yerucap dan mengetahui ada sesuatu yang salah? Pengenalan anda terhadap sesuatu itu mungkin berasal dari sinyal-sinyal emosioal aygn anda amati pada ekspresi fasil orang tesbut. Banyak ahlit eori modern yanng mengikuti Darwin juga percaya emosi bisa dipahami terdrii atas beberapa kutup yang berlawanan sepreti seanng-sedih, marah-sabar, bergairah-bosan dn aseterusnya. Seperti yang akan kita lihat, terdapat banyak debat tentang dimensi unipolar versus bipolar dalam emosi. Prinsip ketiga Darwin saat ini tidak terlalu popular.
Pengenalan kondisi-kondisi emosional.
Satu cara bagi perilkau emosional untuk mmpertahankan nilai survival adalah jika perilaku ini memberi petunjuk tentang kondisi emosional individu pada anggota lain spesiesnya. Dawrwin percaya bahwa gerakan-gerakan ekspresif dikenali berkaitand engan kondisi emosional tertentu oleh para anggota sebuah spesies dan pengakuan ini bersifat bawaan. Dengan kata lain, kita mengenali perilaku-perilaku tertentu mengindikasikan bahwa seseorang berada dalam kondisi emosional tertentu dan kita bisa mengubah perilaku kita berdasarkan hal ini. Yang menarik Darwin mencatat bahwa gerakan-gerakan alis, dahi dan mulut merupakan sinyal penting dari kondisi emosional.
Ethologi
Dalam bab 2 kami menguji ujsulan bawha motivasi bisa dipahamis ebagia akumulasi energi yang berkaitan dengan pola-pola perilaku instingktif, yang dilepaskan oleh stimuli kunci yang tepat. Pendekatan ini dalam bentuk modernnya sudah disebutkan oleh para ahli etologi. Ketika para ahli etologi sudah menekankan sifat bawaan dari proses-proses motivasional, mereka juga menentang sifat bawaan dari emosi.
Dengan mengikuti Darwin, para ahli etologi berkonsentrasi terutama pada studi gerakan ekspresif organisme. Bagi par aahli etologi, motivasi dan emosi dianggap sebagia dua nama untuk konsep yang sama; sebuah bentuk energi spesifik tidnakan.
Gerakan-gerakan sengaja. Riset etologi berfokus pada informasi yang disampaikan oleh gerakan-gerakane kspresi yagn menyertai emosi. Misalnya, Eibl-Eibesfedlt memberikan definisi berikut: ”Pola-pola perilaku terdiferensiasi menjadi sinyal-sinyalaygn disebut gerakan-gerakan ekspresif. Menurtu analisis etologi, ekspresi bawaan dari sebuah kondisi emosional binatang berkembagn dari gerakan-gerkaan sengaja, yang bisa anda sebut sebagia indikator dari sebuah perilaku yang dibuat oleh organisme. Sehingga anjing yang memamerkan giginya merupakan gerakan eksresif yang mengindikasikan emosi dan persiapan untuk menggigit.perilaku eksresif ini seringkali terlihat ketika emosi-emosi yang bertentangan muncul dan cenderung menjadi perilaku-perilaku campuran yang terlibat dalam kondisi-kondisi ang bertentangan. Mislanya seekor kucing jantan yang membela wilayahnya terhadpa pejantan penyusup bisa menaikkan buunya dan segera setelah itu menjauh dari penyerang. Gerakan-gerakan ekspresif ini mungkin mengidikasikan permusuhan yang dicampur dengan ketakutan.
Gerakan-gerakan bertujuan ini akan informastif selama anggota-anggota individu lain emngenalinya sebagia sinyal perilaku yang bisa tejradi. Pengenalan kemarahan, misalnay akan membatnus eseorang menghindari perkelahian yang merusak; respon ketakutan seprti menangis bisa dengan cepat membuat orang dewasa membantu bayi; dan sensitiitas terhadap petunjuk-petunjuk emosioal bisa membantu pria menghindari buang-buang energi dalam melakukan rayuan kepada wanita yang tidak tertarik. Gerakan-gerkaan sengaja memiliki tujuan adaptif mengkoordinasikan perilaku di antara individu sehingga bisa ada bedekatan dengan orang laind ari spesiesnya dan berinteraksi dengan efisien. Binatang yagnhidup dalam kelomok bisa mengembangkan cara-cara mengenali sinyal-sinyal emosional danbertindak dengan tepat. Karena manusia dan primata lainnya hidup dalam kelompok kecil, tidak mengejutkan jika kita dan monyet terbukti sensitif terhadap sinyal-sinyal emosional. Analisis petunjuk-petunjuk nonverbal ini akan dibahas lebih lanjut.
Petunjuk-petunjuk non verbal
Di atnara primata, ekspresi wajah vestur dan panggilan sering menyertai peirlkau emosional (Buck 1976). Apakah ekspresi, panggilan dan gesture berfungsi sebagai petunjuk bagi kondisi emosional binatang? Robert Miller dan kolega menguij ide ini dalam serangkaian eksperimen. Kita kaan melihatnya secara singkat.
Miller menempatkan monyet resus pada sebuah sitausi ekpserimen di mna mereka harus menghindari guncangan dengan menekan sebuah kunci ketika lampu menyala. Ini meurpakan situasi pembelajaran menghindar khusus dan monyet tidak bermaslah dalam belajar mengihndari guncangan. Setlah dia menunjukkan mereka bisa belajar menghidnari guncangan, Miller mengubah sitausi sehinga satu monye tbisa melihat stimuluscahaya tapi tidak bisa menghindari guncangan scara langsung karena tidak ada kunci yang bisa ditekan. Monyet kedua punay kunci tpai tidak melihat stimulus tersbeut. Monyet kedua ini bisa melihat monyet pertama lewat sebuah monitor TV bersirkuit tertutup yang menunjukkan wajah monyet pertama. Pertanayannya adalah: Akankah monyet pertama mengubah ekspresi fasialnya ketika lampu menyala? Dan bisakah monyet kedua memahami perubahan tersbeut, menekan kunci dan dengan demikian menghindari guncangan bagi keduanay?
Jawabannya adalah iya. Ekspresi wajah monyet pertama berubah ketika cahaya menyala, dan monyet kedua mengamati perubahan tersbeut dan belajar menekan kunci untuk menghindari guncangan. Sehingga monyet-monyet tersebut bisamenirim ekspresi fasial yang tepat dan menerima ekspresi tersbeut dan mengubah perilaku mereka.
Harus dicaat bahwa mengirim monyet bukanlah usaha sadar untuk mengirimkan informasi ke monyet pengamat. Monyet pengirim hanya bereaksi pada cahaya dengan perubahan ekspresi wajah karena cahay amengindikasikan guncangan akant erjadi. Monyet yang mengamati mampu menggunakan komunikasi ini untuk menekan kunci untuk menghindari guncangan. Demikian juga, monyet kedua tidak altruistik dengan menekan kunci sehinga keduanya bisa menghindari guncangan; hanya dengan menekan kunci keduanya tidak akant erguncang. Eksperimen ini menunjukkan bawha monyet-monyet resus sensitif terhadap gerakan-gerakan wajah yang bisa berupa ekspresi emosi dan bisa mengubah perilkau mereka. Jika mereka bisa menggunaan komunikasi emosional ini dalam lingkungan laboratoriums teril, mereka bisa juga menggunakan ekspresi wajah dalam lingkungan alami.
Dalam bagian lain eksperimen ini Miller, Caul dan Mirsky memasangkan monyet yang dibesarkan secara terpisah dengan monyet yang dipelihara secara normal dan melakukan semu akombinasi pengirim dan penerima. Kita sudah lama tahu bawha monyet yagndiisolasi dari anggota spesise mereka mengembangkan abnormalitas perilkau, termasuk memeluk diri sendiri, bergoyang, dan menghindari interaksi sosial. Miller menemukan bawha isolat tidak mampu bertindak sebagai pengirim dan pengamat yan gbaik. Satu efek dari isolasi aldaah gangguan kemampuan untuk menggunakan petunjuk yang dihasilkan emosi dan nverbal. Gangguan ini bisa dikaitkand engan perilaku aneh yang ditunjukkan oleh monyet yang terioslasi.
Kemampan mengirim dan menerima petunjuk-petunjuk emosional bisa melibatkan inreraksi antara pola perilkau b awaan dan yang didapatkan. Mason (1961) meyebtukan banyak perilkau yang digunakan oleh monyet dalam komuniaksi spesifik spesies (dan oleh akrena itu bawaan) tapi perkembangan aygn tepat dai perilakup-perilaku tersebut bergantung pad apenglaman yang adekuat. Monyet-monyet yang terisolasi mungkin tidak memiliki komunikasi emosional karena kemampuan bawaan mereka tidak memiliki atmosver sosial yang tepat untuk berkembang. Jika monyet bisa mengkomuniaksikan kondisi emosionalnya dengan gerakan wajah, gestur dan panggilan, bagaimana dengan manusia? Apakah mengkomuniaskikan perasaan mereka melali petunjuk-petunjuk non verbal juga?
Ross Buck berusaha menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan metode sender-observer Miller untuk diterapkan pada manusia. Dalam eksperimen Buck subyek meliaht serangkain slide yang masuk ke beragam kateogri yang berubungan dengan respon emosional ayng mungkin diraskan subyek saat melinhatnya. Kategori-ktgori ini bisa mleiputi slide skeusl, skenik, maternal, memalukan dan ambigu. Subyek lain mengamati reaksi-reaksi vasial orang yang melihat slide dan berusaha memprediksikan tipe slide apa yang dilihat oleh orang pertama dan apakah emosi yang dialami menyenagkan atau tidak menyenangkan. Jika manusia menyatakn emosi lewat gerakan-gerakan fasial, pengamat harus mampu memprediksikan dengan suatu akurasi tpe splide apa yang dilihat orang pertama dan apakah orang ini merasa senang atau tidak senang.
Dalam satu studi Buck menemukanbahwa seorang pengamat bisa meprediksikan pada level-level yang lebih besar daripada peluang kategori slide yang dilihat pengirim. Meski akurasi prediksi ini signifikan secara statistik, ini tidka banyak, mungkin karena orang-orang yagn berbeda bereaski secar aberbeda terhadap stimuli yang sama. Misalnya sesoerang mungkin measa senang melihat foto-foto telanjang, sementara beberapa orang lainnya mungkin tidak tertarik. Akurasi memprediksikan kategori-kategori emosi bersifat marginal. Dalam hal menyenangkan dan tidak menyenangkan, prediksi jauh lebih baik. Kita sangat baik saat mengirim dan menerima sinyal yang merefleksikan mood umum kita tapi tidak terlalu bagis mengindikasikan secara verbal mengapa kita meras demikian (alasan-alasan untuk senang atau tidak senang).
Dalam semua studinya Buck menemukan wanita mengkomunikasikan emosinya secar anonverbal lebih baik daripada pria – mereka pengirim yan glebih baik – karena mereka lebih ekspresif secara fasioal (mereka membuat gerakan-gerakan fasial lebih banyak_. Buck menyatakan bahwa dalam masyarakat kita anak gadis diajari untuk menyatakan emosinya secar terbuka, sementara anak laki-laki diajari mereka harus menghambat eskpresi eprasasan mereka. Sehingga wanita bisa lebih baik dalam menyatakan emosinya secara nonverbal karena mereka diizinkan mengeksternalisasi perasaan mereka, sementara anak laki-laki diajari menginternalisasi perasaan mereka. Dengan cara yang sama seperti data monyet. Riset B uck mengimpliasikan ekspresi emosional bersifat bawaan tapi bisa diubah oleh pengalaman.
Bagaimana ekspresi emosi awal ini terjadi? Buck (1975) menemukan bahwa anak pada usia 4 bulan bisa mengkomunikasikan emosinya dengna bagus lewat ekspresi wajah. Pada usia ini tidak ada perbedaan-perbedaan reliabel yan gmuncul di antar kedua jenis kelamin ini dala hal kemampuannya mengirim informasi, meski anak perempuan masih sedikit lebih bagus. Buck juga menemukan bahwa ibu dari anak-anak tersebut paling akurat saat menilai ktegori-kategori dan juga kondisi menyenangkanemosi, meski pengamat ahli juga berhasil menginterpretasikan ekspresi fasial anak.
Dalam semua studi tersebut pengamat lebih baik sat menilai menyenangkan atau tidak menyenngkan dari emosi yagn dinyatakan daripada saat menilai kategori emosi tertentu. Ekspresi emosional melalui gerakan wajah mengindikasikan mood emosional tapi tidak menyebabkan mood tersebut. Dalam bagian terakhir bab kami akan menguji bukti tambahan bahwa ekspresi-ekspresi wajah yagn berbeda bisa denganakurat mengindikasikan emosi tertentu.
Robert Rosenthal jug atertarik memahami kopmunikasi non verbal. Roesental dan rekan di Harvadr mengembangkans ebuah alat yagn mereka percaya memungkinkan mereka mengukur sensitiitas seseorang terhadap petunjul-petunjuk non verbal (Irosenthal et al 1974) merek amengukur reaksi pad petunjuk-petunjuk nonverrbal sebagai gerakan fasial, egrakan tubuh, nada suara dan seterusnya dengna meminta orang-orang memilih dari serangkaian jawaban yan gmereka anggap menyampaikan emosi. Riset ini mengidentifikasi beragam kondisi emosi bahkan ketika hanay dipaparkan secara singkat ke petunjuk-petunjuk non verbal (1.5 detik).
Sesuai dengan riset Buck, Rosenthal dan rekan menemukan bahwa wanita lebih sensitif darpada pria terhadap petunjuk-petunjuk non verbal, terutama petunjuk-petunjuk tubuh. Menurut temuan-temuan Buck dan Rosenthal, wanita lebih baik daripada pria pada saat mengirimkan informasi non verbal dan mendeteksinya pada yang lain. Meski para peneliti tersebut itdak menghilangkan pembelajaran, mereka menyatakan beberapa aspek kemapuan untuk mengirim dan mendeteksi –petunjuk non verbal emosional bisa berarti bawaan.
Sebuah studi terhadap b ayi juga menimbulkanpertanyaan apakah ekspresi emosional bersifat bawaan lahir (Halth Bergman, & More,977). Dalam eksperimen Halth fiksasi visual wajah oleh bayi duuji. Bayi usia 2 hingga 4 minggu memfiksasi wajah orang dewasa hanya 22% dari waktu selama pengujian, sementara bayi usia 7 minggu memfiksasi wajah lebih dari 87% dari waktu. Para peneliti juga menguji ciri-ciri fasial mana yang difiskasi dan menemukan bahwa mata menarik perhatian terbesar dari usia 7 tahun ke depan. Ini benar ketika orang dewasa berbicara (mungkin seperti diprediksikan bahwa bayi akan memfiksasidaerah muylut). Haith dan rekan menyatakan bahwa mata menjadi titik fiksai penting karena mereka berfungsi sebagai sumber sinyal atau petunjuk dalam situasi-situasi sosial. Meski studi ini tidak menunjukkan bahwa melirik wajah merupakan respon bawaan, ini menyatakan bahwa memifksasi wajah, khsusnya mata, dimulai pada usia yang sangat dini dan bisa memiliki beberapa komponen bawaan.
Studi-studi Haith, Rosenthal dan Buck mengindikasikan bahwa manusia sensitif terhadap ekspresi emosi non verbal dan sementara pembelajaran ti dilibatkan dlam kemampuan ini, beberapa komponen ekspresi dan pengenalan emosional yang sama kemungikinan bersifat bawaan. Seperti primata lain, manusia emngkomuikasikan afeks secara non verbal dan mmebaca sinyal-sinyal emosional non verbal ornag lain.
Mekanisme Otak untuk Emosi
Banyak perubahan tubuh berkaitan dengan emosionalitas (lihat bab 3 untuk tinjauan teori-teori awal emosionalitas oleh James, Lange,Cannon dan lain-lain). Anda juga bisa lihat dair bab 4, tentang mekanisme regulasi, di mana James Papez (1937) mengusulkan sebuah sistem struktur di dalam otak yang berkaitan dengan ekspresi emosional. Papez menyatakan bahwa hipotalamus, anterior thalamic nuclei, cingulate gyrus dan hippocampus terlibat pad emosi. Riset selanjutnya mengonfirmasikan banyak ide Papez dan menambahkan pentingnya sebuah struktur tambahan, amygdala. Struktur-sturktur yang saling berhubungan terebut dikenal sebagai sistem limbik dan nampak memungkinkan integrasi komponen-komponen perilaku (Carlson 1994)yang menarik adalah apengujian struktur-struktur tersebut dan peran-perannya dalam produksi dan pengaturan ekspresi emosi. Tinjauan berikut didasrakan pada ringkasan riset terhadap struktur-struktru tersebut oleh Carlson (1994), LeDoux (1994), Kalat (1995) dan Plutchik (1994).
Menurut Carlson (1994), perilaku emosional terdiri atas tiga komponen: perilaku emosional, perubahan otonom, dan perubahan hormonal. Perilaku-perilaku emosional terdiri atas perubahan-perubahan muskular yagn tepat bagi konteks lingkungan di mana perilkau terjadi. Misalnya seseorang yang sangat marah akan sering mengepalkan tinju. Perilkau ini bis adiangap sebagia persiapan untuk berkelahi jika situasinya meningkat. Perubahan-peurbahan otonom menyediakan energi dengan cepat dan mempersiapkan individu untuk perilkau yang lebih kuat seperti gerakan cepat atau repson yagn lebih kuat. Respon-repon hormonal seperti produksi epineprin dan norepineprine oleh adrenal medulla membantu menopang perubahan-perubahan otonom. Carlson meyatakan bawha itnegrasi perubaahn muskular, otono dan hormonal dilakukan oleh amygdala.
Amygdala
Saat ini nampkak ada dukungan yang besar untuk peran amygdala dalam integrasi kompone-komponen emosi (Carlson, 1994; LEdeoux, 1994). Input-input bagi amygdala berasal dari thalamus, memberikan inforamsi visual dan audiotris langsung ke amygdala yang mungkin relevan secara esmional. Input-input ini scara langsung masuk ke amygdala. Dan memberi jalan di mana inforasmi sensoris bisa menstimulasi respon emosional tanpa pemrosesan kortikal. Input-input tambahan ke amygdala dari kortteks tempoiral memberi trute di mana asosiasi-asosiasi kortikal bisa juga mempengaruhi daya respon emosional. Sehingga circuitry muncul untuk ekspresi emosi langsung terhadpa perisitwa-peristiwa sensoris dan juga ekspresi emosi akibat asoisasi. Yagn terakhir, input-input dari orbital frontal cortex (daerah otak yang berdekatna dengan soket mata – sehingag disebut orbital) memberi informasi ke amygdala yang bisa penting bagi emosionalitas yagn dihasilkan oleh situasi-situasi sosial.
Pentingnya daerah-daerah orbital frontal sudah dikethaui untuk beberapa waktu. Mugnkin kasus terkenal dari sebuah perubahan dalam emosionalitas setelah kerusakan lobus frontal adalah Phineas Gage. Gage menderita kerusakan pad aotaknya ketika muatan bubuk yang dimsukkan ke sebuah lubang dalam sebuah batu meledak, menumpahkan besi tersbeut ke pipi kirinya, mengenai otaknya dan keluar dari bagian atas kepalanya. Gage bertahan hidup dari kecelakan tersebut dan pu;lih. Meski kemampuan intelektula dan motornya tetap utuh, dia menderita perubahan kepribadian yang signifikan. Sebelum kecelakaan dia adalah orang yagn sangat bertanggungjawab dan baik secara sosial. Setelah kecelakaan dia tidak bertanggungjawab dan tidak memperhatikan lagi aturan-aturan sosial. Analisis modern terhadap tengkorak Gage (yang meninggal pada 1861) oleh Damasio dan lain-lain (1994) mengonfirmasikan bawha daerah orbital frontal otaknya dirusak oleh batang besi itu. Perubahan kepribadian yagn dimaati pada Gage juga konsisten dengan perubahan-perubahan perilkau yagn dilaporkan oleh Damasio dan rekan (1994 lihat catatan 12) dalam sekelompok pasien modern dengan kerusakan orbital frontal. Para pasien tersebutbermasalah dalam membuat keputusan-keptusan rasional tentang persoalan person al dan sosial dan menunjukkan perubahan-perubahan dalam pemrosesan emosi mereka.
LeDoux (1994) meringkas sebuah badan penelitian yagn cukup besar yang menunjukkan amygdala sebagai hal penting dalam pembelajaran respon-respon emosional yang berkaitan dengan rasa takut.
Amygdala juga nampak menimpulkan kotnrol terhadap banyak perubahan yagn ditimbulkan ketika emosi muncul. Misalnya amygdala memiliki hubungan ke hipotalamus yang bisa memberi jalur yagn diperlukan bagi perubahan-perubahan otonom akibat situasi emosional (Kalat 1995). Selain itu Amygdala berhubungna dengna otak belakang pada level pons atau medula (atau mungkin keduanay – Kalat 1995); koneksi-koneksi ini bisa memberi jalan di mana amygdala mempengaruhi respon skeletal yang berkaitan dengan emosionalitas.
Sebagai ringkasan, butki riset yang ada saat ini konsisten dalam menunjukkan bahwa amygdala penting bagi perubahan perilaku, otonom dan hormonal yang terjadi dalam sitausi-situasi emosional.
Emosi dari perspektif pembelajaran
Dalam bagian ini kami akan melihat secara singkat beberapac ara di mana pembelajaran bisa berkontribusi terhadap emosionalitas. Seperti dicata dalam ba 6, situasi-situasi pengkondisian klasik bisa menyebabkan berkembangnya emosionlaitas pada stimuli yagn sbelumnya netral. Juga jelas bahwa emosi-emosi seperti ketaktuan bis amenyebabkan perilaku-perilaku instrumental baru yang mengurangi atau melepaskan organisme dari situasi yang menyebabkan emosi. Karena dalam bab 5 kami menguji ss ecara detail teori perilaku umum Hull, kami mulai lagi diskusi dengan melihat bagiamana para ahli teori dorongan ini menangani emosi.
Emosi sebagai dorongan
Clark Hull tidak tertarik pada emosi. Istilah emosi tidak muncul dalam indeks bukunya tahun 1943 dan 1951. Pada 1952, Hull scara singkat menyebutkan emosi terlibat dalam perubahan-perubahan perilaku yang mengikuti pergeseran dari reward besar k erward kecil (dan sebaliknya). Karena perubahan-perubahan perilkau tersebut beasal dari pengkontrasan perubahan-perubahan dalam nilai nisentif tujuan, Hull menganggap emosionalitas bertanggungjawab sebagian untuk efek-efek insentif terhadap perilaku.
Kenneth Spence mengembangkan sebuah pendekatan yang lebih sistematis pada studi emosi. Spence (1956, 1960) membagi peristiwa-peristiwa motoivasional menjadi dua kategori – apetiitf dan aversif. Kondisi apetitif (lapar, haus dan seks) melibatkan situasi-situasi yagn mendorong pada perilkau mendekat. Kondisi aversif adalah sitausi di mana organimse berusaha menarik diri atau lari. Rasa sakit merupakan kondisi aversif yang paling jelas dan juga yang paling sering dipelajari.
Berkatian dengan kondisi-kondisi aversif, Spence berpendapat bawha dorongan yang mengaktivasi perilaku berasal dari perkembangan respon emosional internal dalam organisme. Sehingga motivasi yang mengaktivasi perilaku dalam sitausi aversif dianggap didasrakan pada perkembagnan emosionalitas. Spence juga berpendapat bawha emosionlalitas ini dibangkitkan oleh sebuah stimulus aversif (setrum listirk, cubitan pada ekor).
Spence juga meprediksikan individu memiliki perbedaan kekuatan respon emosi yagn meerka timbulkan dalam adanya sbeuah stimulus aversif. Ini menunjukkan bahw subyek-subyek yang sangat emosional harus bekerja lebih baik daripada subyek-subyek yang memiliki emosionalitas lebih rendah dalam sebuah sitausi aversif, dengan syarat respon yang benar ini memiliki peluang terjadi tinggi, karena emosionalitas tingi akan menyebabkan doronga yang lebih tinggi dan perilaku yang lebih bagus. Janet Taylor Spence, murid dari Kenneth Spence, mengembangkan inventaris-diri untuk mengukru daya respon emosioanl individu. Dia memilih kecemasan sebagai proses dasar untuk studi dan mengembangkan Skala KEcemasan Manifest Taylor untuk mengukurnya (Taylor 1951m 1953).
Untuk menentukan efek kecemasan terhadap perilaku, Spence memilih mempelajari efek-efeknya tehradp pengkondsian klasik repson kelopak mata manusia terhadap hembusan udara. Seperti yang mungkin anda tahu, jika sebuah hembusan udara menerpa mata anda (ketika anda mengitari sebuah gedung dan kembali kearah sebelumnya dengna melawan angin kencang), anda secara otoamtis menutup mata. Ketika stimulus netral (mungkin nada0 dipasangkan dengan hembusan udar apad amata, orang akan mulai mengedip terhadap stimulus meski jika tiupan udara itu sudah dihilangkan pada beberapa percobaan. Spence ingon menguji ide bahwa subyek memiliki kecemasan tinggi, seperti diukur oleh Skala MEcemasan Manifest, akan menunjukkan persentase respon terkondisikan yang lebihbesar daripada subyek yang memiliki kecemasan rendah. Dia memprediksikan perhbedaan antar asubyek dengan kecdemasan tinggi dan rendah ini berdasarkan pada fakta bawha respon emosional kecemasan akan menghasilkan dorongan yang lebih pada subyek yagn sangat cemas daripada subyek ayng ukurang cemas. Karena teori dorongan berasumsi dorongan memperkuat kekuatan kebiasaan, subyek dengan kecdemasan tinggi menunjukkan persentase menutup mata yang lebih tinggi sebagai respon terhadap stimulus yang terkondisikan.
Taylor (1951) yang pertama menguji ide ini. Dia memilih suby
Emosi sebagai motivator
Tinjauan bab
Bab ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Bagaimana konsep emosi dijelaskan oleh para ahli teori psikologi?
2. apa peran faktor-faktor biologi dalam ekspresi emosi?
3. apa peran kognisi dalam emosi?
4. adakah emosi-emosi universal?
Sebagai atlit amaitr, saya telah menyaksikan beragam peristiwa olimpiade dengan aktusiasme yang besar dan mengalami beberapa dmapak emosional dari gagal dan sukses para partisipan. Saya meliht apra atlit menerima medali emas dnegna air mata berderai. Apakah mereka sedih? Emosional? Tentu saja.
Bab ini tentang emosi. Bagiamana kita bisa mnejelaskan emosionalitas atlit yang sukses dan reaksi-reaksi emosional kita sendiri? Apakah emosi berasal dari perubahan-peurbahan visceral intenral, seprti disarankan oleh james dan Lange (lihat bab 3), atau apakah bersal dari penghargaan kognitif atas peristiwa-peristiwa yang berlangsung? Apakah emosi bersifat bawaan dan jumlahnya terbatas, atau apakah emosi dipelajari dan berlipat-lipat jumlahnay? Ada sedikti pertanyaan riset tentang emosi yang harus dijawab. Seperti yang akan kita temukan, jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut sulit didapatkan dan opini-opini sangat berbeda.
Pada awalnya kata emosi berarti bergerak, seprti dalam beprindah dari satu tempat ke tempat lain; meski demikain istilah ini kemudian bearrrti sebuah gerakan atau agitasi dalam pengertian fisik. Penggunaan ini diperluas hingga meliputi agitasi politik dan sosial. Yang terakhir istilah ini berati sebuah kondisi teragitasi atau terbangkitkan pada seseorang (Young 1975). Sehingga ide emosi nampak mengimplikasikan seseorang itu digerakkan – yaitu diubah – dari satu kondisi ke kondisi lain, seperti berubah dari senang ke sedih atau dari non emosional ke emosional.
Para peneliti yang tertraik pada konsep ini telah memberikan banyak definisi emosi, tapis eperti dicatat oleh Mandler (1984), tidak ada definis iyagn diterima secara umum. Ketika kami menguji beberapa model emosi yang ada dalam bab ini,akan menjadi jelas bahwa emosi bisa dikonseptualisasikan dalam beberapa cara yang berbeda, dari perubahan-perubahan fisiologis hinga penilaian kognitif hingag ke ekspresi fasial fundamental. Setiap pendekatan menawarkan sesuatu, dan tidak adanya definisi yang diteima secara umumt entang emosi mungkin berasal dari fakta bawha emosi itu multifast.
Selama beberapa tahun tadisi berkembang dalam tudi emosi. Satu tradisi adalah bioplogis. Dimulai oleh Darwin (1872), pendekatna biologis dikemabngkan lebih lanjut oleh James, Lange dan Cannon dan lebih baru oleh para ahli ethologi (dan juga oleh banyak peneliti lain). Dalam bagian pertama bnab ini kami akanmenguji emosi dari perspektif biologis ini.
Tradisi kedua menekankan peran proses-proses pembelajaran dalam emosi. Kaltias-kualitas emosi seperti dorongan sudah dicatat oleh Bandura. Dalam bagian kedua bab ini kami akan meninjau secara singkat beberapa cara di mana pembelajaran dilibatkan dengan emosi.
Pada bagian ketiga bab kami akan menguji pendekatan-pendekatan kognitif terhadap emosi. Para ahlit eori dalam tradisi ini menekankan penilaian kognitif penting bagi pengalaman emosi. Beberapa model kognitif akan diuji.
Dalam bagian terakhir bab ini kami menguji ide bahwa sejulah emosi bersifat iuniversal. Teori-teori biasanya mengusulkan seumlah keicl emosi bawaawn berkmebang karena nilai adaptifnya bagi individu. Lebih lanjut, perubahan-perubahan muskulatur fasial sering disarankan sebagai cara mengkomunikasikan emosi ke orang lain dan kepada diri kita sendiri. Emosi-emosi fundamnetal bisa dicampur menghasilkan rentangpengalaman emosional tak terbatas.
Seperti dibuktikan dari pendahuluans ingakt ini, riset tentang meosi tidak memberi jawaban mudah, dan perselisihan dia ntara para ahli teori kadang-kadang begitui parah. Sebenarnya, satu penjelasan yang cenderung menggantikan penjelasan lain terjadi sekitar setiap 20 tahun (Averill 1983). Dalam bab ini kami akan menguji banyak pendekatan yang disebut kan oelh Averill yang berpengaruh terhadap konsep-konsep kita tentang emosi. Mari mulai dari awal pendekatan modern tentangtopik ini, yaitu pada teori darwin.
Emosi dari perspektif biologis
Darwin
Jika anda membaca buku Darwin The Expresion of the Emotions in Man and Animlas (1872), anda akant erkejut pada betapa modernnya ini terdengar. Misalnya, dia sadar bahwa gerakan-gerakan tubuh dan ekspresi badah (saat ini disebut bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal) mengkomunikasikan mana di antara para agnggota sebuah speiss. Dia berpendapat bawha banak jkomunikasi non verbal ini menyampaikan informasi tentang kondisi emosional organisme.
Darwin percaya bahwa empis dan kespresinya bersifat bawaan, meski d kemungkinan bebrpara tipe ekspresi emosioal bisa dpelajari. Banyak dari analisis emosi berkembang dis ektiar cara emosi diekspreiskan. Dia mengusulkan tiga prinsip untuk memahami ekspresi emosi pada manusia dan binatang.
pRinsip-prinsip serviceable yagn berkaitan dengan kebiasaan, antitesis, dan kerja langsung sistem saraf. Pada prinsip kebiasaan serviceabel, Dariwn mengusulkan cara organisme menyatakan emosi memiliki nilai survival di masa lalu. Sehingga sekor anjing bisa memkerkan giginya ketika membela tuannya karena dalam masa lalu evolusiiner gigi taring anjing,. Perilaku ini meningkatkan nilai survival anjing jika bertindak demikian. Memamerkan gigi bernilai adaptif karena beberapa alasan; misalnya, ini menandakan kesiapan motivasional untuk menyerang, yang pada akhirnya bisa menyebabkan binatang pengancam pergi, dan kedua, perilkau ini merupakan persiapan bagi anjing untuk menggigit jika diperlukan.
Darwin percaya bahwa ekspresi-ekspresi emosional pada awalnya dipelajari tapi menjadi bawaan selama beberapa generasi; sehingga kebiasaan yagn berkaitan dengan serviceable merupakan perilaku ygn dipeljari yagn menjadi bawaan karena kegunaannya. Karena dia tidak tahu karya genetik Mendel, Darwin tidak tahu bagaimana karakteristik tersebut diawriskand aris atu generasi ke genrasi berikutnya sehngga dia mengusulkan bawha ekspresi emosi berkembang dari kebiasaan yagn dipelajari terhadap ciri-ciri turunan selama beberapa genrasi. Saat ini kita tahu evolusi gagal dengan cara tersebut. Meski demikian, untuk memasukkan prinsip Darwin ke dalam pengetahuan genetik modern, kita perlu mencatat bahwa gen-gen tertentu mengontrol perkembangan perilaku emosi tertentu dan ekspresi emosi tersebut (anjing yang memamerkan giginya) memiliki nilai survival bagi organisme yang memiliki gen-gen tersebut.
Dalam prinsip antitesis Darwin mengusulkan bahwa ekspresi emosi yang bertentangan (kemarhaan dan ketenangan) melibatkan jenis-jenis perilaku yang berbeda.Kucing yagn marah akan mengerang, meratakan telinganya dengan kepala, memperpanjang cakarnya dan membuka mulutnya untuk menggingit. Kucing yang ramah dan tenang menggosek-gesekkan punggungya pada kaki anda dan telinganya berdiri, mulut tertutup dan cakarnya teratrik. Ekspresi perilaku dari dua kondisi emosional tersebut angat berbeda dan bertentangan. Sehingga prinsip antitesis menyatakan bahwa perilaku yang berkaitan dengan jenis-jenis perasan seingkali dinaytakan pada jenis-jenis perilaku yang berbeda.
Darwin sadar dia tidak bisa mengkategorisasikan semau perilaku emosioal menurut dua prisnip tersebut karena beberapa perilaku emosioal nampak tidak berguna bagi organisme. Dia mengusulan prinsip kerja sistem saraf langsung, yang menaytakan bawha beberapa ekspresi emosional terjadi hany a karena peruabahn apda aktivitas sistem saraf.
Dua prinsip pertama Dawrin nampak lebih relevan hari ini daripada prinsip ketiga. Umumnya diyakini bahwa emosi dan ekspresinya bersifat adaptif dan munculk saat ini karena berfungsi mengkomunikasikan kondisi-konidis intenral dari satu individu ke individu lainnya. Misalnya, seberapa sering anda melirik sseorang, tanpa ata yerucap dan mengetahui ada sesuatu yang salah? Pengenalan anda terhadap sesuatu itu mungkin berasal dari sinyal-sinyal emosioal aygn anda amati pada ekspresi fasil orang tesbut. Banyak ahlit eori modern yanng mengikuti Darwin juga percaya emosi bisa dipahami terdrii atas beberapa kutup yang berlawanan sepreti seanng-sedih, marah-sabar, bergairah-bosan dn aseterusnya. Seperti yang akan kita lihat, terdapat banyak debat tentang dimensi unipolar versus bipolar dalam emosi. Prinsip ketiga Darwin saat ini tidak terlalu popular.
Pengenalan kondisi-kondisi emosional.
Satu cara bagi perilkau emosional untuk mmpertahankan nilai survival adalah jika perilaku ini memberi petunjuk tentang kondisi emosional individu pada anggota lain spesiesnya. Dawrwin percaya bahwa gerakan-gerakan ekspresif dikenali berkaitand engan kondisi emosional tertentu oleh para anggota sebuah spesies dan pengakuan ini bersifat bawaan. Dengan kata lain, kita mengenali perilaku-perilaku tertentu mengindikasikan bahwa seseorang berada dalam kondisi emosional tertentu dan kita bisa mengubah perilaku kita berdasarkan hal ini. Yang menarik Darwin mencatat bahwa gerakan-gerakan alis, dahi dan mulut merupakan sinyal penting dari kondisi emosional.
Ethologi
Dalam bab 2 kami menguji ujsulan bawha motivasi bisa dipahamis ebagia akumulasi energi yang berkaitan dengan pola-pola perilaku instingktif, yang dilepaskan oleh stimuli kunci yang tepat. Pendekatan ini dalam bentuk modernnya sudah disebutkan oleh para ahli etologi. Ketika para ahli etologi sudah menekankan sifat bawaan dari proses-proses motivasional, mereka juga menentang sifat bawaan dari emosi.
Dengan mengikuti Darwin, para ahli etologi berkonsentrasi terutama pada studi gerakan ekspresif organisme. Bagi par aahli etologi, motivasi dan emosi dianggap sebagia dua nama untuk konsep yang sama; sebuah bentuk energi spesifik tidnakan.
Gerakan-gerakan sengaja. Riset etologi berfokus pada informasi yang disampaikan oleh gerakan-gerakane kspresi yagn menyertai emosi. Misalnya, Eibl-Eibesfedlt memberikan definisi berikut: ”Pola-pola perilaku terdiferensiasi menjadi sinyal-sinyalaygn disebut gerakan-gerakan ekspresif. Menurtu analisis etologi, ekspresi bawaan dari sebuah kondisi emosional binatang berkembagn dari gerakan-gerkaan sengaja, yang bisa anda sebut sebagia indikator dari sebuah perilaku yang dibuat oleh organisme. Sehingga anjing yang memamerkan giginya merupakan gerakan eksresif yang mengindikasikan emosi dan persiapan untuk menggigit.perilaku eksresif ini seringkali terlihat ketika emosi-emosi yang bertentangan muncul dan cenderung menjadi perilaku-perilaku campuran yang terlibat dalam kondisi-kondisi ang bertentangan. Mislanya seekor kucing jantan yang membela wilayahnya terhadpa pejantan penyusup bisa menaikkan buunya dan segera setelah itu menjauh dari penyerang. Gerakan-gerakan ekspresif ini mungkin mengidikasikan permusuhan yang dicampur dengan ketakutan.
Gerakan-gerakan bertujuan ini akan informastif selama anggota-anggota individu lain emngenalinya sebagia sinyal perilaku yang bisa tejradi. Pengenalan kemarahan, misalnay akan membatnus eseorang menghindari perkelahian yang merusak; respon ketakutan seprti menangis bisa dengan cepat membuat orang dewasa membantu bayi; dan sensitiitas terhadap petunjuk-petunjuk emosioal bisa membantu pria menghindari buang-buang energi dalam melakukan rayuan kepada wanita yang tidak tertarik. Gerakan-gerkaan sengaja memiliki tujuan adaptif mengkoordinasikan perilaku di antara individu sehingga bisa ada bedekatan dengan orang laind ari spesiesnya dan berinteraksi dengan efisien. Binatang yagnhidup dalam kelomok bisa mengembangkan cara-cara mengenali sinyal-sinyal emosional danbertindak dengan tepat. Karena manusia dan primata lainnya hidup dalam kelompok kecil, tidak mengejutkan jika kita dan monyet terbukti sensitif terhadap sinyal-sinyal emosional. Analisis petunjuk-petunjuk nonverbal ini akan dibahas lebih lanjut.
Petunjuk-petunjuk non verbal
Di atnara primata, ekspresi wajah vestur dan panggilan sering menyertai peirlkau emosional (Buck 1976). Apakah ekspresi, panggilan dan gesture berfungsi sebagai petunjuk bagi kondisi emosional binatang? Robert Miller dan kolega menguij ide ini dalam serangkaian eksperimen. Kita kaan melihatnya secara singkat.
Miller menempatkan monyet resus pada sebuah sitausi ekpserimen di mna mereka harus menghindari guncangan dengan menekan sebuah kunci ketika lampu menyala. Ini meurpakan situasi pembelajaran menghindar khusus dan monyet tidak bermaslah dalam belajar mengihndari guncangan. Setlah dia menunjukkan mereka bisa belajar menghidnari guncangan, Miller mengubah sitausi sehinga satu monye tbisa melihat stimuluscahaya tapi tidak bisa menghindari guncangan scara langsung karena tidak ada kunci yang bisa ditekan. Monyet kedua punay kunci tpai tidak melihat stimulus tersbeut. Monyet kedua ini bisa melihat monyet pertama lewat sebuah monitor TV bersirkuit tertutup yang menunjukkan wajah monyet pertama. Pertanayannya adalah: Akankah monyet pertama mengubah ekspresi fasialnya ketika lampu menyala? Dan bisakah monyet kedua memahami perubahan tersbeut, menekan kunci dan dengan demikian menghindari guncangan bagi keduanay?
Jawabannya adalah iya. Ekspresi wajah monyet pertama berubah ketika cahaya menyala, dan monyet kedua mengamati perubahan tersbeut dan belajar menekan kunci untuk menghindari guncangan. Sehingga monyet-monyet tersebut bisamenirim ekspresi fasial yang tepat dan menerima ekspresi tersbeut dan mengubah perilaku mereka.
Harus dicaat bahwa mengirim monyet bukanlah usaha sadar untuk mengirimkan informasi ke monyet pengamat. Monyet pengirim hanya bereaksi pada cahaya dengan perubahan ekspresi wajah karena cahay amengindikasikan guncangan akant erjadi. Monyet yang mengamati mampu menggunakan komunikasi ini untuk menekan kunci untuk menghindari guncangan. Demikian juga, monyet kedua tidak altruistik dengan menekan kunci sehinga keduanya bisa menghindari guncangan; hanya dengan menekan kunci keduanya tidak akant erguncang. Eksperimen ini menunjukkan bawha monyet-monyet resus sensitif terhadap gerakan-gerakan wajah yang bisa berupa ekspresi emosi dan bisa mengubah perilkau mereka. Jika mereka bisa menggunaan komunikasi emosional ini dalam lingkungan laboratoriums teril, mereka bisa juga menggunakan ekspresi wajah dalam lingkungan alami.
Dalam bagian lain eksperimen ini Miller, Caul dan Mirsky memasangkan monyet yang dibesarkan secara terpisah dengan monyet yang dipelihara secara normal dan melakukan semu akombinasi pengirim dan penerima. Kita sudah lama tahu bawha monyet yagndiisolasi dari anggota spesise mereka mengembangkan abnormalitas perilkau, termasuk memeluk diri sendiri, bergoyang, dan menghindari interaksi sosial. Miller menemukan bawha isolat tidak mampu bertindak sebagai pengirim dan pengamat yan gbaik. Satu efek dari isolasi aldaah gangguan kemampuan untuk menggunakan petunjuk yang dihasilkan emosi dan nverbal. Gangguan ini bisa dikaitkand engan perilaku aneh yang ditunjukkan oleh monyet yang terioslasi.
Kemampan mengirim dan menerima petunjuk-petunjuk emosional bisa melibatkan inreraksi antara pola perilkau b awaan dan yang didapatkan. Mason (1961) meyebtukan banyak perilkau yang digunakan oleh monyet dalam komuniaksi spesifik spesies (dan oleh akrena itu bawaan) tapi perkembangan aygn tepat dai perilakup-perilaku tersebut bergantung pad apenglaman yang adekuat. Monyet-monyet yang terisolasi mungkin tidak memiliki komunikasi emosional karena kemampuan bawaan mereka tidak memiliki atmosver sosial yang tepat untuk berkembang. Jika monyet bisa mengkomuniaksikan kondisi emosionalnya dengan gerakan wajah, gestur dan panggilan, bagaimana dengan manusia? Apakah mengkomuniaskikan perasaan mereka melali petunjuk-petunjuk non verbal juga?
Ross Buck berusaha menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan metode sender-observer Miller untuk diterapkan pada manusia. Dalam eksperimen Buck subyek meliaht serangkain slide yang masuk ke beragam kateogri yang berubungan dengan respon emosional ayng mungkin diraskan subyek saat melinhatnya. Kategori-ktgori ini bisa mleiputi slide skeusl, skenik, maternal, memalukan dan ambigu. Subyek lain mengamati reaksi-reaksi vasial orang yang melihat slide dan berusaha memprediksikan tipe slide apa yang dilihat oleh orang pertama dan apakah emosi yang dialami menyenagkan atau tidak menyenangkan. Jika manusia menyatakn emosi lewat gerakan-gerakan fasial, pengamat harus mampu memprediksikan dengan suatu akurasi tpe splide apa yang dilihat orang pertama dan apakah orang ini merasa senang atau tidak senang.
Dalam satu studi Buck menemukanbahwa seorang pengamat bisa meprediksikan pada level-level yang lebih besar daripada peluang kategori slide yang dilihat pengirim. Meski akurasi prediksi ini signifikan secara statistik, ini tidka banyak, mungkin karena orang-orang yagn berbeda bereaski secar aberbeda terhadap stimuli yang sama. Misalnya sesoerang mungkin measa senang melihat foto-foto telanjang, sementara beberapa orang lainnya mungkin tidak tertarik. Akurasi memprediksikan kategori-kategori emosi bersifat marginal. Dalam hal menyenangkan dan tidak menyenangkan, prediksi jauh lebih baik. Kita sangat baik saat mengirim dan menerima sinyal yang merefleksikan mood umum kita tapi tidak terlalu bagis mengindikasikan secara verbal mengapa kita meras demikian (alasan-alasan untuk senang atau tidak senang).
Dalam semua studinya Buck menemukan wanita mengkomunikasikan emosinya secar anonverbal lebih baik daripada pria – mereka pengirim yan glebih baik – karena mereka lebih ekspresif secara fasioal (mereka membuat gerakan-gerakan fasial lebih banyak_. Buck menyatakan bahwa dalam masyarakat kita anak gadis diajari untuk menyatakan emosinya secar terbuka, sementara anak laki-laki diajari mereka harus menghambat eskpresi eprasasan mereka. Sehingga wanita bisa lebih baik dalam menyatakan emosinya secara nonverbal karena mereka diizinkan mengeksternalisasi perasaan mereka, sementara anak laki-laki diajari menginternalisasi perasaan mereka. Dengan cara yang sama seperti data monyet. Riset B uck mengimpliasikan ekspresi emosional bersifat bawaan tapi bisa diubah oleh pengalaman.
Bagaimana ekspresi emosi awal ini terjadi? Buck (1975) menemukan bahwa anak pada usia 4 bulan bisa mengkomunikasikan emosinya dengna bagus lewat ekspresi wajah. Pada usia ini tidak ada perbedaan-perbedaan reliabel yan gmuncul di antar kedua jenis kelamin ini dala hal kemampuannya mengirim informasi, meski anak perempuan masih sedikit lebih bagus. Buck juga menemukan bahwa ibu dari anak-anak tersebut paling akurat saat menilai ktegori-kategori dan juga kondisi menyenangkanemosi, meski pengamat ahli juga berhasil menginterpretasikan ekspresi fasial anak.
Dalam semua studi tersebut pengamat lebih baik sat menilai menyenangkan atau tidak menyenngkan dari emosi yagn dinyatakan daripada saat menilai kategori emosi tertentu. Ekspresi emosional melalui gerakan wajah mengindikasikan mood emosional tapi tidak menyebabkan mood tersebut. Dalam bagian terakhir bab kami akan menguji bukti tambahan bahwa ekspresi-ekspresi wajah yagn berbeda bisa denganakurat mengindikasikan emosi tertentu.
Robert Rosenthal jug atertarik memahami kopmunikasi non verbal. Roesental dan rekan di Harvadr mengembangkans ebuah alat yagn mereka percaya memungkinkan mereka mengukur sensitiitas seseorang terhadap petunjul-petunjuk non verbal (Irosenthal et al 1974) merek amengukur reaksi pad petunjuk-petunjuk nonverrbal sebagai gerakan fasial, egrakan tubuh, nada suara dan seterusnya dengna meminta orang-orang memilih dari serangkaian jawaban yan gmereka anggap menyampaikan emosi. Riset ini mengidentifikasi beragam kondisi emosi bahkan ketika hanay dipaparkan secara singkat ke petunjuk-petunjuk non verbal (1.5 detik).
Sesuai dengan riset Buck, Rosenthal dan rekan menemukan bahwa wanita lebih sensitif darpada pria terhadap petunjuk-petunjuk non verbal, terutama petunjuk-petunjuk tubuh. Menurut temuan-temuan Buck dan Rosenthal, wanita lebih baik daripada pria pada saat mengirimkan informasi non verbal dan mendeteksinya pada yang lain. Meski para peneliti tersebut itdak menghilangkan pembelajaran, mereka menyatakan beberapa aspek kemapuan untuk mengirim dan mendeteksi –petunjuk non verbal emosional bisa berarti bawaan.
Sebuah studi terhadap b ayi juga menimbulkanpertanyaan apakah ekspresi emosional bersifat bawaan lahir (Halth Bergman, & More,977). Dalam eksperimen Halth fiksasi visual wajah oleh bayi duuji. Bayi usia 2 hingga 4 minggu memfiksasi wajah orang dewasa hanya 22% dari waktu selama pengujian, sementara bayi usia 7 minggu memfiksasi wajah lebih dari 87% dari waktu. Para peneliti juga menguji ciri-ciri fasial mana yang difiskasi dan menemukan bahwa mata menarik perhatian terbesar dari usia 7 tahun ke depan. Ini benar ketika orang dewasa berbicara (mungkin seperti diprediksikan bahwa bayi akan memfiksasidaerah muylut). Haith dan rekan menyatakan bahwa mata menjadi titik fiksai penting karena mereka berfungsi sebagai sumber sinyal atau petunjuk dalam situasi-situasi sosial. Meski studi ini tidak menunjukkan bahwa melirik wajah merupakan respon bawaan, ini menyatakan bahwa memifksasi wajah, khsusnya mata, dimulai pada usia yang sangat dini dan bisa memiliki beberapa komponen bawaan.
Studi-studi Haith, Rosenthal dan Buck mengindikasikan bahwa manusia sensitif terhadap ekspresi emosi non verbal dan sementara pembelajaran ti dilibatkan dlam kemampuan ini, beberapa komponen ekspresi dan pengenalan emosional yang sama kemungikinan bersifat bawaan. Seperti primata lain, manusia emngkomuikasikan afeks secara non verbal dan mmebaca sinyal-sinyal emosional non verbal ornag lain.
Mekanisme Otak untuk Emosi
Banyak perubahan tubuh berkaitan dengan emosionalitas (lihat bab 3 untuk tinjauan teori-teori awal emosionalitas oleh James, Lange,Cannon dan lain-lain). Anda juga bisa lihat dair bab 4, tentang mekanisme regulasi, di mana James Papez (1937) mengusulkan sebuah sistem struktur di dalam otak yang berkaitan dengan ekspresi emosional. Papez menyatakan bahwa hipotalamus, anterior thalamic nuclei, cingulate gyrus dan hippocampus terlibat pad emosi. Riset selanjutnya mengonfirmasikan banyak ide Papez dan menambahkan pentingnya sebuah struktur tambahan, amygdala. Struktur-sturktur yang saling berhubungan terebut dikenal sebagai sistem limbik dan nampak memungkinkan integrasi komponen-komponen perilaku (Carlson 1994)yang menarik adalah apengujian struktur-struktur tersebut dan peran-perannya dalam produksi dan pengaturan ekspresi emosi. Tinjauan berikut didasrakan pada ringkasan riset terhadap struktur-struktru tersebut oleh Carlson (1994), LeDoux (1994), Kalat (1995) dan Plutchik (1994).
Menurut Carlson (1994), perilaku emosional terdiri atas tiga komponen: perilaku emosional, perubahan otonom, dan perubahan hormonal. Perilaku-perilaku emosional terdiri atas perubahan-perubahan muskular yagn tepat bagi konteks lingkungan di mana perilkau terjadi. Misalnya seseorang yang sangat marah akan sering mengepalkan tinju. Perilkau ini bis adiangap sebagia persiapan untuk berkelahi jika situasinya meningkat. Perubahan-peurbahan otonom menyediakan energi dengan cepat dan mempersiapkan individu untuk perilkau yang lebih kuat seperti gerakan cepat atau repson yagn lebih kuat. Respon-repon hormonal seperti produksi epineprin dan norepineprine oleh adrenal medulla membantu menopang perubahan-perubahan otonom. Carlson meyatakan bawha itnegrasi perubaahn muskular, otono dan hormonal dilakukan oleh amygdala.
Amygdala
Saat ini nampkak ada dukungan yang besar untuk peran amygdala dalam integrasi kompone-komponen emosi (Carlson, 1994; LEdeoux, 1994). Input-input bagi amygdala berasal dari thalamus, memberikan inforamsi visual dan audiotris langsung ke amygdala yang mungkin relevan secara esmional. Input-input ini scara langsung masuk ke amygdala. Dan memberi jalan di mana inforasmi sensoris bisa menstimulasi respon emosional tanpa pemrosesan kortikal. Input-input tambahan ke amygdala dari kortteks tempoiral memberi trute di mana asosiasi-asosiasi kortikal bisa juga mempengaruhi daya respon emosional. Sehingga circuitry muncul untuk ekspresi emosi langsung terhadpa perisitwa-peristiwa sensoris dan juga ekspresi emosi akibat asoisasi. Yagn terakhir, input-input dari orbital frontal cortex (daerah otak yang berdekatna dengan soket mata – sehingag disebut orbital) memberi informasi ke amygdala yang bisa penting bagi emosionalitas yagn dihasilkan oleh situasi-situasi sosial.
Pentingnya daerah-daerah orbital frontal sudah dikethaui untuk beberapa waktu. Mugnkin kasus terkenal dari sebuah perubahan dalam emosionalitas setelah kerusakan lobus frontal adalah Phineas Gage. Gage menderita kerusakan pad aotaknya ketika muatan bubuk yang dimsukkan ke sebuah lubang dalam sebuah batu meledak, menumpahkan besi tersbeut ke pipi kirinya, mengenai otaknya dan keluar dari bagian atas kepalanya. Gage bertahan hidup dari kecelakan tersebut dan pu;lih. Meski kemampuan intelektula dan motornya tetap utuh, dia menderita perubahan kepribadian yang signifikan. Sebelum kecelakaan dia adalah orang yagn sangat bertanggungjawab dan baik secara sosial. Setelah kecelakaan dia tidak bertanggungjawab dan tidak memperhatikan lagi aturan-aturan sosial. Analisis modern terhadap tengkorak Gage (yang meninggal pada 1861) oleh Damasio dan lain-lain (1994) mengonfirmasikan bawha daerah orbital frontal otaknya dirusak oleh batang besi itu. Perubahan kepribadian yagn dimaati pada Gage juga konsisten dengan perubahan-perubahan perilkau yagn dilaporkan oleh Damasio dan rekan (1994 lihat catatan 12) dalam sekelompok pasien modern dengan kerusakan orbital frontal. Para pasien tersebutbermasalah dalam membuat keputusan-keptusan rasional tentang persoalan person al dan sosial dan menunjukkan perubahan-perubahan dalam pemrosesan emosi mereka.
LeDoux (1994) meringkas sebuah badan penelitian yagn cukup besar yang menunjukkan amygdala sebagai hal penting dalam pembelajaran respon-respon emosional yang berkaitan dengan rasa takut.
Amygdala juga nampak menimpulkan kotnrol terhadap banyak perubahan yagn ditimbulkan ketika emosi muncul. Misalnya amygdala memiliki hubungan ke hipotalamus yang bisa memberi jalur yagn diperlukan bagi perubahan-perubahan otonom akibat situasi emosional (Kalat 1995). Selain itu Amygdala berhubungna dengna otak belakang pada level pons atau medula (atau mungkin keduanay – Kalat 1995); koneksi-koneksi ini bisa memberi jalan di mana amygdala mempengaruhi respon skeletal yang berkaitan dengan emosionalitas.
Sebagai ringkasan, butki riset yang ada saat ini konsisten dalam menunjukkan bahwa amygdala penting bagi perubahan perilaku, otonom dan hormonal yang terjadi dalam sitausi-situasi emosional.
Emosi dari perspektif pembelajaran
Dalam bagian ini kami akan melihat secara singkat beberapac ara di mana pembelajaran bisa berkontribusi terhadap emosionalitas. Seperti dicata dalam ba 6, situasi-situasi pengkondisian klasik bisa menyebabkan berkembangnya emosionlaitas pada stimuli yagn sbelumnya netral. Juga jelas bahwa emosi-emosi seperti ketaktuan bis amenyebabkan perilaku-perilaku instrumental baru yang mengurangi atau melepaskan organisme dari situasi yang menyebabkan emosi. Karena dalam bab 5 kami menguji ss ecara detail teori perilaku umum Hull, kami mulai lagi diskusi dengan melihat bagiamana para ahli teori dorongan ini menangani emosi.
Emosi sebagai dorongan
Clark Hull tidak tertarik pada emosi. Istilah emosi tidak muncul dalam indeks bukunya tahun 1943 dan 1951. Pada 1952, Hull scara singkat menyebutkan emosi terlibat dalam perubahan-perubahan perilaku yang mengikuti pergeseran dari reward besar k erward kecil (dan sebaliknya). Karena perubahan-perubahan perilkau tersebut beasal dari pengkontrasan perubahan-perubahan dalam nilai nisentif tujuan, Hull menganggap emosionalitas bertanggungjawab sebagian untuk efek-efek insentif terhadap perilaku.
Kenneth Spence mengembangkan sebuah pendekatan yang lebih sistematis pada studi emosi. Spence (1956, 1960) membagi peristiwa-peristiwa motoivasional menjadi dua kategori – apetiitf dan aversif. Kondisi apetitif (lapar, haus dan seks) melibatkan situasi-situasi yagn mendorong pada perilkau mendekat. Kondisi aversif adalah sitausi di mana organimse berusaha menarik diri atau lari. Rasa sakit merupakan kondisi aversif yang paling jelas dan juga yang paling sering dipelajari.
Berkatian dengan kondisi-kondisi aversif, Spence berpendapat bawha dorongan yang mengaktivasi perilaku berasal dari perkembangan respon emosional internal dalam organisme. Sehingga motivasi yang mengaktivasi perilaku dalam sitausi aversif dianggap didasrakan pada perkembagnan emosionalitas. Spence juga berpendapat bawha emosionlalitas ini dibangkitkan oleh sebuah stimulus aversif (setrum listirk, cubitan pada ekor).
Spence juga meprediksikan individu memiliki perbedaan kekuatan respon emosi yagn meerka timbulkan dalam adanya sbeuah stimulus aversif. Ini menunjukkan bahw subyek-subyek yang sangat emosional harus bekerja lebih baik daripada subyek-subyek yang memiliki emosionalitas lebih rendah dalam sebuah sitausi aversif, dengan syarat respon yang benar ini memiliki peluang terjadi tinggi, karena emosionalitas tingi akan menyebabkan doronga yang lebih tinggi dan perilaku yang lebih bagus. Janet Taylor Spence, murid dari Kenneth Spence, mengembangkan inventaris-diri untuk mengukru daya respon emosioanl individu. Dia memilih kecemasan sebagai proses dasar untuk studi dan mengembangkan Skala KEcemasan Manifest Taylor untuk mengukurnya (Taylor 1951m 1953).
Untuk menentukan efek kecemasan terhadap perilaku, Spence memilih mempelajari efek-efeknya tehradp pengkondsian klasik repson kelopak mata manusia terhadap hembusan udara. Seperti yang mungkin anda tahu, jika sebuah hembusan udara menerpa mata anda (ketika anda mengitari sebuah gedung dan kembali kearah sebelumnya dengna melawan angin kencang), anda secara otoamtis menutup mata. Ketika stimulus netral (mungkin nada0 dipasangkan dengan hembusan udar apad amata, orang akan mulai mengedip terhadap stimulus meski jika tiupan udara itu sudah dihilangkan pada beberapa percobaan. Spence ingon menguji ide bahwa subyek memiliki kecemasan tinggi, seperti diukur oleh Skala MEcemasan Manifest, akan menunjukkan persentase respon terkondisikan yang lebihbesar daripada subyek yang memiliki kecemasan rendah. Dia memprediksikan perhbedaan antar asubyek dengan kecdemasan tinggi dan rendah ini berdasarkan pada fakta bawha respon emosional kecemasan akan menghasilkan dorongan yang lebih pada subyek yagn sangat cemas daripada subyek ayng ukurang cemas. Karena teori dorongan berasumsi dorongan memperkuat kekuatan kebiasaan, subyek dengan kecdemasan tinggi menunjukkan persentase menutup mata yang lebih tinggi sebagai respon terhadap stimulus yang terkondisikan.
Taylor (1951) yang pertama menguji ide ini. Dia memilih suby
Sabtu, 09 April 2011
apa masalahku?
masalahku sekarang adalah munculnya kecemasan besar disebabkan oleh munculnya kebutuhan yang begitu kuat untuk dipenuhi. aku ingin berkeluarga. dengan siapa? apa modalku?
seberapa tidak siapkah aku menghadapi ini? aku tidak siap. bahkan untuk biaya pernikahanpun belum ada bersama masalah lain yaitu belum ada pasangan yang pasti untuk dinikahi.
lalu mengapa aku harus cemas? seberapa mengganggukah jika kebutuhan ini tidak terpenuhi?
Tentu saja aku harus cemas. aku tidak muda lagi. umurku 30 sekarang. lewat dari umur ini akan semakin berat beban yang harus kupikul nantinya.
benarkah? mungkin iya mungkin tidak. tapi aku lebih memilih kemungkinan benar.
hal pertama yang harus dipikirkan jika menikah adalah dimana aku dan isteriku akan tinggal. saat ini aku belum punya rumah sendiri. tinggal di kos-kosan atau di rumah orang tua.
pekerjaan juga menjadi salah satu yang membuatku perlu hampir setiap waktu menguatkan diri berkaitan dengan ini karena aku memilih jalan yang "mendekatkanku pada jarak yang terlalu dekat dengan resiko". aku berwiraswasta.
dalam karir ini sekarang aku seperti berada di jalan yang mungkin belum bisa disebut sebagai "jalan" meski bisa dilewati. sama sekali tidak mulus. karena aku tidak mengikuti jalan orang lain - memilih menciptakan jalanku sendiri - inilah jadinya.
kadang-kadang semuanya begitu samar, kadang-kadang begitu mudah tapi di lain waktu begitu sukar. skil yang belum kukuasai sepenuhnya adalah memberi patokan-patokan pada jalan-jalan yang sudah aku lewati, merapikannya, sehingga memudahkanku balik jika sewaktu-waktu aku terdesak mundur.
itulah kontradiksi kedua. aku enggan mundur di sisi lain aku juga hampir selalu nyaris kehabisan energi. di saat itu biasanya aku terduduk dan mengoreksi sepotong demi sepotong diriku. apa yang lemah, apa yang membuatku berdiri sempoyongan. pun begitu semuanya masih kelihatan samar-samar.
Ya Tuhan, aku merasakan diriku sangat parah, celah di sana sini sampai-sampai untuk membayangkan bagaimana diriku yang ideal saja aku harus berusaha sekuat tenaga.
tapi itulah yang memang harus kulakukan. melihat diriku sepenuhnya - tapi meamng sulit.
aku mulai saja dari apa-apa yang kuinginkan.
untuk tubuhku, aku ingin punya tubuh yang bugar dan sehat. aku ingin berat badanku turun sekitar 5 s/d 7 kilogram.
68 kilogram terasa terlalu berat buatku dan juga membuatku kelihatan jelek. apalagi perutku. itulah yang harus kukejar. bagaimanapun turun 5 sampai 7 kg harus terwujud.
(bersambung)
seberapa tidak siapkah aku menghadapi ini? aku tidak siap. bahkan untuk biaya pernikahanpun belum ada bersama masalah lain yaitu belum ada pasangan yang pasti untuk dinikahi.
lalu mengapa aku harus cemas? seberapa mengganggukah jika kebutuhan ini tidak terpenuhi?
Tentu saja aku harus cemas. aku tidak muda lagi. umurku 30 sekarang. lewat dari umur ini akan semakin berat beban yang harus kupikul nantinya.
benarkah? mungkin iya mungkin tidak. tapi aku lebih memilih kemungkinan benar.
hal pertama yang harus dipikirkan jika menikah adalah dimana aku dan isteriku akan tinggal. saat ini aku belum punya rumah sendiri. tinggal di kos-kosan atau di rumah orang tua.
pekerjaan juga menjadi salah satu yang membuatku perlu hampir setiap waktu menguatkan diri berkaitan dengan ini karena aku memilih jalan yang "mendekatkanku pada jarak yang terlalu dekat dengan resiko". aku berwiraswasta.
dalam karir ini sekarang aku seperti berada di jalan yang mungkin belum bisa disebut sebagai "jalan" meski bisa dilewati. sama sekali tidak mulus. karena aku tidak mengikuti jalan orang lain - memilih menciptakan jalanku sendiri - inilah jadinya.
kadang-kadang semuanya begitu samar, kadang-kadang begitu mudah tapi di lain waktu begitu sukar. skil yang belum kukuasai sepenuhnya adalah memberi patokan-patokan pada jalan-jalan yang sudah aku lewati, merapikannya, sehingga memudahkanku balik jika sewaktu-waktu aku terdesak mundur.
itulah kontradiksi kedua. aku enggan mundur di sisi lain aku juga hampir selalu nyaris kehabisan energi. di saat itu biasanya aku terduduk dan mengoreksi sepotong demi sepotong diriku. apa yang lemah, apa yang membuatku berdiri sempoyongan. pun begitu semuanya masih kelihatan samar-samar.
Ya Tuhan, aku merasakan diriku sangat parah, celah di sana sini sampai-sampai untuk membayangkan bagaimana diriku yang ideal saja aku harus berusaha sekuat tenaga.
tapi itulah yang memang harus kulakukan. melihat diriku sepenuhnya - tapi meamng sulit.
aku mulai saja dari apa-apa yang kuinginkan.
untuk tubuhku, aku ingin punya tubuh yang bugar dan sehat. aku ingin berat badanku turun sekitar 5 s/d 7 kilogram.
68 kilogram terasa terlalu berat buatku dan juga membuatku kelihatan jelek. apalagi perutku. itulah yang harus kukejar. bagaimanapun turun 5 sampai 7 kg harus terwujud.
(bersambung)
Pasuruan, 9 April 2011
Hari sabtu yang indah. Pertamakalinya ke penanjakan lewat tosari. Meskipun sayangnya udara berkabut dan gerimis, aku menikmatinya. Itu siang tadi. Sekarang aku duduk di warnet diserang kebosanan yang hampir terlalu dahsyat.
Aku cemas, kurang motivasi, kesepian, entah apalagi yang harus kuperbuat…
Hidupku seolah-olah silih berganti dilewati kegembiraan dan kebosanan, optimisme dan rasa takut.
Berpikir lebih lama membuat hidupku terasa menjadi lebih gelap. Yang ku inginkan sekarang adalah menerima diriku apa adanya, menghapus bayangan-bayangan gelap dan menakutkan, dan mencoba mengerti lebih jauh, berhenti membuat rencana-rencana dan menyelesaikan pekerjaanku.
Sampai di mana aku, pertanyaan yang berseling dengan pertanyaan-pertanyaan meresahkan seperti kapan aku berkeluarga, seberapa tidak siap mentalku untuk itu, dan lain-lain dan lain-lain.
Saat aku jenuh dengan keadaan sekarang, pikiran tentang apa yang akan kulakukan besok begitu menggoda.
Aku cemas, kurang motivasi, kesepian, entah apalagi yang harus kuperbuat…
Hidupku seolah-olah silih berganti dilewati kegembiraan dan kebosanan, optimisme dan rasa takut.
Berpikir lebih lama membuat hidupku terasa menjadi lebih gelap. Yang ku inginkan sekarang adalah menerima diriku apa adanya, menghapus bayangan-bayangan gelap dan menakutkan, dan mencoba mengerti lebih jauh, berhenti membuat rencana-rencana dan menyelesaikan pekerjaanku.
Sampai di mana aku, pertanyaan yang berseling dengan pertanyaan-pertanyaan meresahkan seperti kapan aku berkeluarga, seberapa tidak siap mentalku untuk itu, dan lain-lain dan lain-lain.
Saat aku jenuh dengan keadaan sekarang, pikiran tentang apa yang akan kulakukan besok begitu menggoda.
Minggu, 30 Januari 2011
Tentang Seseorang di Masa Lalu (Good Bye)
Detik dlm hidupku
by: sofyan
hatiku bergetar menunggu fajar
saat malam panjang membekukan sarafku
saat jam dinding berdenting tiga kali yang tak mengusir mendung di langit
ketika itu ku teriakkan namaku dalam hati
ke arah udara dingin diiringi doa semoga di antara bintang-gemintang di balik awan itu, di goa-goa yang belum terjamah di setiap bulatan-bulatan bercahaya perak itu, atau mungkin di pantai-pantai yang tak dikenali oleh pikiranku pikiranmu pada bintang-gemintang itu, juga di puncak-puncak ketinggian gunung-gunungnya namaku bergema sekali hingga percaya aku tentang kesepianku sebagaimana ketika tak kutemukan segorespun jejakku pada kedua matamu yang menatap kedua mataku
dan tentang cinta yang pernah kita bicarakan hingga seolah hatiku hatimu ditumbuhi seribu jenis bunga, seribu jenis wewangian, dan seribu jenis benih yang sempat kita mengimpikannya dikarenakan cinta itu...tentang cinta yang menyucikan keringat, darah, dan air mata kita, juga semangat hidup yang dilahirkan olehnya, tentang cinta yang kita alami itu, kau dan aku menyaksikannya, betapa lemah di depan sang waktu.. ia menghempaskannya semudah angin memburai asap
Sidoarjo, 6 Oktober 2008
by: sofyan
hatiku bergetar menunggu fajar
saat malam panjang membekukan sarafku
saat jam dinding berdenting tiga kali yang tak mengusir mendung di langit
ketika itu ku teriakkan namaku dalam hati
ke arah udara dingin diiringi doa semoga di antara bintang-gemintang di balik awan itu, di goa-goa yang belum terjamah di setiap bulatan-bulatan bercahaya perak itu, atau mungkin di pantai-pantai yang tak dikenali oleh pikiranku pikiranmu pada bintang-gemintang itu, juga di puncak-puncak ketinggian gunung-gunungnya namaku bergema sekali hingga percaya aku tentang kesepianku sebagaimana ketika tak kutemukan segorespun jejakku pada kedua matamu yang menatap kedua mataku
dan tentang cinta yang pernah kita bicarakan hingga seolah hatiku hatimu ditumbuhi seribu jenis bunga, seribu jenis wewangian, dan seribu jenis benih yang sempat kita mengimpikannya dikarenakan cinta itu...tentang cinta yang menyucikan keringat, darah, dan air mata kita, juga semangat hidup yang dilahirkan olehnya, tentang cinta yang kita alami itu, kau dan aku menyaksikannya, betapa lemah di depan sang waktu.. ia menghempaskannya semudah angin memburai asap
Sidoarjo, 6 Oktober 2008
Sabtu, 29 Januari 2011
Temanku
Temanku,
Seumur hidup kau disepelekan
sampai suaramu gemetaran
tapi hatimu temanku,
menyimpan semangat seribu orang sekaligus...
temanku,
ini aku temanmu
kita berdiri bersama sekarang
jalan terjal membentang di hadapan kita
udaranya lebih jahat ketimbang setan
tajamkan nyalimu temanku
seperti tajamnya nyaliku
bersama kita bertempur!!!
Seumur hidup kau disepelekan
sampai suaramu gemetaran
tapi hatimu temanku,
menyimpan semangat seribu orang sekaligus...
temanku,
ini aku temanmu
kita berdiri bersama sekarang
jalan terjal membentang di hadapan kita
udaranya lebih jahat ketimbang setan
tajamkan nyalimu temanku
seperti tajamnya nyaliku
bersama kita bertempur!!!
Puisi
Puisi adalah bagaimana jiwamu bergetar
Sentuhan pada udara dan tetes embun
Kebasan sayap kupu-kupu pada keheningan pagi
Ataupun gerimis hujan yang menambah sunyi malam
Atau denting lonceng yang menggugah hatimu
Puisi itu kejujuran yang tak mengharap pengakuan
Tak berhenti karena celaan dan pujian
Puisi adalah rasa lega yang mengalir
Terus menerus seiring kesulitan yang terus menghimpit
Lewat lenguhannya pelacur berpuisi
Lewat tangisan sang bayi pun berpuisi
Segala suara adalah puisi itu sendiri
Hanya saja telinga ini selalu memilih
hanya saja keangkuhan ini terlalu berpihak
Puisi bukanlah kebenaran
Melainkan keindahan yang menyentuh kebenaran
Tanpa menjadi kebenaran itu sendiri
Sofyan
Surabaya, 30 Jan 2011
Sentuhan pada udara dan tetes embun
Kebasan sayap kupu-kupu pada keheningan pagi
Ataupun gerimis hujan yang menambah sunyi malam
Atau denting lonceng yang menggugah hatimu
Puisi itu kejujuran yang tak mengharap pengakuan
Tak berhenti karena celaan dan pujian
Puisi adalah rasa lega yang mengalir
Terus menerus seiring kesulitan yang terus menghimpit
Lewat lenguhannya pelacur berpuisi
Lewat tangisan sang bayi pun berpuisi
Segala suara adalah puisi itu sendiri
Hanya saja telinga ini selalu memilih
hanya saja keangkuhan ini terlalu berpihak
Puisi bukanlah kebenaran
Melainkan keindahan yang menyentuh kebenaran
Tanpa menjadi kebenaran itu sendiri
Sofyan
Surabaya, 30 Jan 2011
Langganan:
Postingan (Atom)